DAFTAR ISI
Kata
pengantar ……………………………………………………………………………….. i
Daftar
isi ……………………………………………………………………………………... ii
BAB
I : PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
…………………………………………………………………….. 1
1.2
Rumusan Masalah
…………..…………………………………………………….. 1
1.3
Tujuan Penulisan ……..……………………………………………………………
2
BAB
II : PEMBAHASAN
2.1
Definisi Termodinamika
……….…………………………………………………. 3
2.2
Hukum-hukm Termodinamika
…..……………………...……………………....… 4
2.3
Proses- proses Termodinamika
Gas…..………...…………………………………. 8
2.4
Sikus Carnot
…….……………………...………………………………………… 12
BAB III : KESIMPULAN DAN SARAN
3.1
Kesimpulan
……………………………………………………………….............. 19
3.2
Saran ……………………………………………………………………………… 19
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………….. 20
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan
kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah ini. Tidak lupa shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada
keluarganya, sahabatnya, sampai kepada umatnya hingga akhir zaman.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah konsep dasar keperawatan, adapun judul dari
makalah ini yaitu Termodinamika.
Dalam proses pembuatan makalah ini hingga selesai, telah banyak pihak yang ikut
dilibatkan dengan bantuan dan dorongan baik moril maupun materiil dan dari
beberapa pihak, kami ucapkan terima kasih, terutama kepada :
Bapak Syarif yang telah dengan sabar membimbing kami.
Kami menyadari
bahwa penyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Maka dari
itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar menjadi lebih baik
lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Garut, 20 September 2012
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Termodinamika adalah ilmu tentang energi, yang
secara spesifik membahas tentang hubungan antara energi panas dengan kerja.
Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, baik secara alami
maupun hasil rekayasa teknologi. Selain itu energi di alam
semesta bersifat kekal, tidak
dapat dibangkitkan atau dihilangkan, yang
terjadi adalah perubahan energi dari satu
bentuk menjadi bentuk lain tanpa ada pengurangan atau penambahan. Hal ini
erat hubungannya dengan hukum – hukum dasar pada termodinamika. Dalam makalah ini
kami akan membahas tentang hukum-hukum termodinamika dan tentang sistem Carnot
Efek
magnetokalorik di pakai untuk menurunkan temperatur senyawa paramagnetikhingga
sekitar 0.001 K. Secara prinsip, temperatur yang lebih rendah lagi dapat
dicapai dengan menerapkan efek magnetokalorik berulang-ulang. Jadi setelah
penaikan medan magnetik semula secara isoterm, penurunan medan magnetik secara
adiabat dapat dipakai untuk menyiapkan sejumlah besar bahan pada temperatur
Tᶠ¹, yang dapat dipakai sebagai tandon kalor untuk menaikan tandon kalor secara
isoterm ynag berikutnya dari sejumlah bahan yang lebih sedikit dari bahan
semula. Penurunan medan magnetik secara adiabat yang kedua dapat menghasilkan
temperatur yang lebih rendah lagi, Tᶠ², dan seterusnya. Maka akn tibul
pertanyaan apakah efek magnetokalorik dapat dipakai untuk mendinginkan zat
hingga mencapai nol mutlak.
Pecobaan
menunjukan bahwa sifat dasar semua proses pendinginan adalah bahwa semakin
rendah temperatur yang dicapai, semakin sulit menurunkannya.hal yang sama
berlaku juga untuk efek magnetokalorik.dengan persyaratan demikian, penurunan
medan secara adiabat yang tak trhingga banyaknya diperlukan untuk mencapai
temperatur nol mutlak.
Rankine Cycle
kadang-kadang dikenal sebagai suatu Daur Carnot praktis ketika suatu turbin
efisien digunakan, T diagram akan mulai untuk menyerupai Daur Carnot. Perbedaan
yang utama adalah bahwa suatu pompa digunakan untuk memberi tekanan cairan
sebagai penganti gas. Ini memerlukan sekitar 100 kali lebih sedikit energy
dibanding yang memampatkan suatu gas di dalam suatu penekan ( seperti di Daur
Carnot)
1.2 Rumusan Masalah
Maka dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1.
Apa pengertian
dan aplikasi hukum termodinamika ?
2.
Apa dan
bagaimana proses siklus Carnot terjadi?
1.3 Tujuan
Penulisan
Makalah ini diharapkan mampu memberikan manfaat sebagai berikut :
1.
Memberikan
tambahan pengetahuan kepada pembaca tentang Termodinamika.
2.
Memberikan
penjelasan kepada pembaca tentang Hukum-hukum termodinamika
3.
Memberikan
penjelasan tentang hal – hal dasar yang sering dilupakan dalam Thermodinamika.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
Termodinamika adalah kajian tentang kalor (panas) yang
berpindah. Dalam termodinamika kamu akan banyak membahas tentang sistem dan
lingkungan. Kumpulan benda-benda yang sedang ditinjau disebut sistem, sedangkan
semua yang berada di sekeliling (di luar) sistem disebut lingkungan.
Usaha Luar
Usaha luar
dilakukan oleh sistem, jika kalor ditambahkan (dipanaskan) atau kalor dikurangi
(didinginkan) terhadap sistem. Jika kalor diterapkan kepada gas yang
menyebabkan perubahan volume gas, usaha luar akan dilakukan oleh gas tersebut.
Usaha yang dilakukan oleh gas ketika volume berubah dari volume awal V1 menjadi
volume akhir V2 pada tekananp konstan
dinyatakan sebagai hasil kali tekanan dengan perubahan volumenya.
W = p∆V= p(V2 – V1)
Secara umum, usaha dapat dinyatakan
sebagai integral tekanan terhadap perubahan volume yang ditulis sebagai
Gas
dikatakan melakukan usaha apabila volume gas bertambah besar (atau mengembang)
dan V2 > V1. sebaliknya,
gas dikatakan menerima usaha (atau usaha dilakukan terhadap gas) apabila volume
gas mengecil atau V2 < V1 dan
usaha gas bernilai negatif.
Energi Dalam
Suatu gas yang berada dalam suhu
tertentu dikatakan memiliki energi dalam. Energi dalam gas berkaitan dengan
suhu gas tersebut dan merupakan sifat mikroskopik gas tersebut. Meskipun gas
tidak melakukan atau menerima usaha, gas tersebut dapat memiliki energi yang
tidak tampak tetapi terkandung dalam gas tersebut yang hanya dapat ditinjau
secara mikroskopik.
Berdasarkan teori kinetik gas, gas
terdiri atas partikel-partikel yang berada dalam keadaan gerak yang acak.
Gerakan partikel ini disebabkan energi kinetik rata-rata dari seluruh partikel
yang bergerak. Energi kinetik ini berkaitan dengan suhu mutlak gas. Jadi,
energi dalam dapat ditinjau sebagai jumlah keseluruhan energi kinetik dan
potensial yang terkandung dan dimiliki oleh partikel-partikel di dalam gas
tersebut dalam skala mikroskopik. Dan, energi dalam gas sebanding dengan suhu
mutlak gas. Oleh karena itu, perubahan suhu gas akan menyebabkan perubahan
energi dalam gas. Secara matematis, perubahan energi dalam gas dinyatakan
sebagai
untuk gas monoatomik
untuk gas diatomik
Dimana ∆U adalah
perubahan energi dalam gas, n adalah jumlah mol gas, R adalah
konstanta umum gas (R = 8,31 J mol−1 K−1,
dan ∆T adalah perubahan suhu gas (dalam kelvin).
2.2 HUKUM- HUKUM TERMODINAMIKA
Hukum
I Termodinamika
Jika
kalor diberikan kepada sistem, volume dan suhu sistem akan bertambah (sistem
akan terlihat mengembang dan bertambah panas). Sebaliknya, jika kalor diambil
dari sistem, volume dan suhu sistem akan berkurang (sistem tampak mengerut dan
terasa lebih dingin). Prinsip ini merupakan hukum alam yang penting dan salah
satu bentuk dari hukum kekekalan energi.
Gambar
Sistem
yang mengalami perubahan volume akan melakukan usaha dan sistem yang mengalami
perubahan suhu akan mengalami perubahan energi dalam. Jadi, kalor yang
diberikan kepada sistem akan menyebabkan sistem melakukan usaha dan mengalami
perubahan energi dalam. Prinsip ini dikenal sebagai hukum kekekalan energi
dalam termodinamika atau disebut hukum I termodinamika. Secara matematis, hukum
I termodinamika dituliskan sebagai
Q = W + ∆U
Dimana Q adalah kalor, W adalah usaha, dan ∆U adalah perubahan energi dalam.
Secara sederhana, hukum I termodinamika dapat dinyatakan sebagai berikut.
Jika
suatu benda (misalnya krupuk) dipanaskan (atau digoreng) yang berarti diberi
kalor Q, benda (krupuk) akan mengembang atau bertambah volumenya yang berarti
melakukan usaha W dan benda (krupuk) akan bertambah panas (coba aja dipegang,
pasti panas deh!)
yang berarti mengalami perubahan energi dalam ∆U.
Hukum Pertama Termodinamika
Perubahan
energi dalam: 
Keterangan:
U2:Energi
dalam pada keadaan akhir (Joule)
U1:Energi
dalam pada keadaan awal (Joule)
Usaha
yang dilakukan oleh gas pada tekanan tetap:
Keterangan:
p: Besarnya
tekanan (atm)
Rumus
umum usaha yang dilakukan gas: 
Penghitungan
energi dalam:
Gas monoatomik: 
Gas diatomik: 
2.3 Proses-proses termodinamika gas
1. Proses isobarik
Jika gas melakukan proses
termodinamika dengan menjaga tekanan tetap konstan, gas dikatakan melakukan
proses isobarik. Karena gas berada dalam tekanan konstan, gas melakukan usaha (W = p∆V).
Kalor di sini dapat dinyatakan sebagai kalor gas pada tekanan konstan Q
Diagram proses isobarik. Daerah
berwarna kuning sama dengan usaha yang dilakukan.
Proses isobarik adalah
perubahan keadaan gas pada tekanan tetap.
Persamaan
keadaan isobarik: 
Usaha
yang dilakukan pada keadaan isobarik: 
2. Proses isokhorik
Jika gas melakukan proses
termodinamika dalam volume yang konstan, gas dikatakan melakukan proses
isokhorik. Karena gas berada dalam volume konstan (∆V = 0), gas
tidak melakukan usaha (W = 0) dan kalor yang diberikan sama dengan
perubahan energi dalamnya
Digram proses isokhorik. Grafiknya
berupa garis lurus vertikal karena volumenya tidak berubah. Tidak ada usaha
yang dilakukan pada proses isokhorik.
Proses isokhorik adalah
perubahan keadaan gas pada volume tetap.
Persamaan
keadaan isokhorik: 
3. Proses isotermis/isotermik
Proses isotermik. Daerah
berwarna biru menunjukkan besarnya usaha yang dilakukan gas.
Proses isotermik adalah
perubahan keadaan gas pada suhu tetap.
Persamaan
keadaan isotermik: 
Usaha
yang dilakukan pada keadaan isotermik:
Dari persamaan gas ideal
Rumus umum usaha yang dilakukan gas:
maka: 
karena
bernilai
tetap, maka:
Ingat integral ini!
maka
persamaan di atas menjadi
maka
menjadi:
4. Proses adiabatik
Proses adiabatik. Warna biru muda menunjukkan besarnya usaha yang
dilakukan.
Proses
adiabatik adalah perubahan keadaan gas dimana tidak ada kalor yang masuk maupun
keluar dari sistem.
Persamaan
keadaan adiabatik: 
Tetapan
Laplace: 
karena
, maka
persamaan diatas dapat juga ditulis:
Usaha
yang dilakukan pada proses adiabatik: 
Pernyataan eyang butut Clausius merupakan salah satu
pernyataan khusus hukum kedua termodinamika. Disebut pernyataan khusus karena
hanya berlaku untuk satu proses saja (berkaitan dengan perpindahan kalor).
Karena pernyataan ini tidak berkaitan dengan proses lainnya, maka kita
membutuhkan pernyataan yang lebih umum. Perkembangan pernyataan umum hukum
kedua termodinamika sebagiannya didasarkan pada studi tentang mesin kalor.
Karenanya terlebih dahulu kita bahas mesin kalor…
MESIN KALOR (heat engine)
Gagasan dasar dibalik penggunaan mesin kalor adalah bahwa
kalor bisa diubah menjadi energi mekanik hanya jika kalor dibiarkan mengalir
dari tempat bersuhu tinggi menuju tempat bersuhu rendah. Selama proses ini,
sebagian kalor diubah menjadi energi mekanik (sebagian kalor digunakan untuk
melakukan kerja), sebagian kalor dibuang pada tempat yang bersuhu rendah.
Proses perubahan bentuk energi dan perpindahan energi pada mesin kalor tampak
seperti diagram di bawah…

2.4
Siklus Carnot
Untuk mengetahui bagaimana menaikkan efisiensi mesin kalor,
seorang ilmuwan muda belia dari negeri Perancis yang bernama om Sadi Carnot
(1796-1832 = 36 tahun saja. Mati muda) meneliti suatu mesin kalor ideal secara
teoritis pada tahun 1824. Pada waktu itu hukum pertama termodinamika belum
dirumuskan (apalagi hukum kedua). Hukum pertama belum dirumuskan karena para
ilmuwan belum mengetahui secara pasti kalor alias panas tuh sebenarnya apa.
Setelah om Jimi Joule dan teman-temannya melakukan percobaan pada tahun
1830-an, para ilmuwan baru mengetahui secara pasti bahwa kalor merupakan energi
yang berpindah akibat adanya perbedaan suhu. Jadi hukum pertama baru dirumuskan
setelah tahun 1830. Om Sadi Carnot sudah meneliti mesin kalor ideal secara
teoritis pada tahun 1824. Penelitian yang beliau lakukan sebenarnya untuk
menaikkan efisiensi mesin uap yang pada waktu itu sudah digunakan. Kebanyakan
mesin uap waktu itu kurang efisien… (Ingat lagi penjelasan Mr.Ozan sebelumnya).
Siklus pada mesin kalor ideal hasil oprekan om Sadi Carnot disebut sebagai siklus Carnot. Sebelum meninjau siklus Carnot, alangkah baiknya kita pahami kembali proses ireversibel. Setiap proses perubahan bentuk energi dan perpindahan energi yang berlangsung secara alami, biasanya terjadi secara ireversibel (tidak bisa balik). Misalnya kalau kita menggosokkan kedua telapak tangan, kedua telapak tangan kita biasanya kepanasan. Dalam hal ini, kalor alias panas dihasilkan melalui kerja yang kita lakukan. Prosesnya bersifat ireversibel. Kalor alias panas yang dihasilkan tersebut tidak bisa dengan sendirinya melakukan kerja dengan menggosok-gosok kedua telapak tangan kita . Nah, tujuan dari mesin kalor adalah membalikkan sebagian proses ini, di mana kalor alias panas bisa dimanfaatkan untuk melakukan kerja dengan efisiensi sebesar mungkin. Agar mesin kalor bisa memiliki efisiensi yang maksimum maka kita harus menghindari semua proses ireversibel… Perpindahan kalor yang terjadi secara alami biasanya bersifat ireversibel, karenanya kita berupaya agar si kalor tidak boleh jalan-jalan. Pada saat mesin mengambil kalor QH pada tempat yang bersuhu tinggi (TH), zat kerja dalam mesin juga harus berada pada suhu TH. Demikian juga apabila mesin membuang kalor QL pada tempat yang bersuhu rendah (TL), zat kerja dalam mesin juga harus berada pada suhu TL. Jadi setiap proses yang melibatkan perpindahan kalor harus bersifat isotermal (suhu sama). Sebaliknya, apabila suhu zat kerja dalam mesin berada di antara TH dan TL, tidak boleh terjadi perpindahan kalor antara mesin dengan tempat yang memiliki suhu TH (penyedia kalor) dan tempat yang memiliki suhu TL (pembuangan). Agar si kalor tidak jalan-jalan maka proses harus dilakukan secara adiabatik…
Siklus Carnot sebenarnya terdiri dari dua proses isotermal reversibel dan dua proses adiabatik reversibel. Biar paham, tataplah gambar kusam di bawah dengan penuh kelembutan…
Siklus pada mesin kalor ideal hasil oprekan om Sadi Carnot disebut sebagai siklus Carnot. Sebelum meninjau siklus Carnot, alangkah baiknya kita pahami kembali proses ireversibel. Setiap proses perubahan bentuk energi dan perpindahan energi yang berlangsung secara alami, biasanya terjadi secara ireversibel (tidak bisa balik). Misalnya kalau kita menggosokkan kedua telapak tangan, kedua telapak tangan kita biasanya kepanasan. Dalam hal ini, kalor alias panas dihasilkan melalui kerja yang kita lakukan. Prosesnya bersifat ireversibel. Kalor alias panas yang dihasilkan tersebut tidak bisa dengan sendirinya melakukan kerja dengan menggosok-gosok kedua telapak tangan kita . Nah, tujuan dari mesin kalor adalah membalikkan sebagian proses ini, di mana kalor alias panas bisa dimanfaatkan untuk melakukan kerja dengan efisiensi sebesar mungkin. Agar mesin kalor bisa memiliki efisiensi yang maksimum maka kita harus menghindari semua proses ireversibel… Perpindahan kalor yang terjadi secara alami biasanya bersifat ireversibel, karenanya kita berupaya agar si kalor tidak boleh jalan-jalan. Pada saat mesin mengambil kalor QH pada tempat yang bersuhu tinggi (TH), zat kerja dalam mesin juga harus berada pada suhu TH. Demikian juga apabila mesin membuang kalor QL pada tempat yang bersuhu rendah (TL), zat kerja dalam mesin juga harus berada pada suhu TL. Jadi setiap proses yang melibatkan perpindahan kalor harus bersifat isotermal (suhu sama). Sebaliknya, apabila suhu zat kerja dalam mesin berada di antara TH dan TL, tidak boleh terjadi perpindahan kalor antara mesin dengan tempat yang memiliki suhu TH (penyedia kalor) dan tempat yang memiliki suhu TL (pembuangan). Agar si kalor tidak jalan-jalan maka proses harus dilakukan secara adiabatik…
Siklus Carnot sebenarnya terdiri dari dua proses isotermal reversibel dan dua proses adiabatik reversibel. Biar paham, tataplah gambar kusam di bawah dengan penuh kelembutan…

Gambar di atas merupakan siklus Carnot untuk gas ideal.
Mula-mula kalor diserap selama pemuaian isotermal (a-b). Selama pemuaian
isotermal, suhu gas dalam silinder dijaga agar selalu konstan. Selanjutnya gas
memuai secara adiabatik sehingga suhunya turun dari TH menjadi TL (b-c). TH =
suhu tinggi (High temperatur), TL = suhu rendah (Low temperatur). Selama
pemuaian adiabatik, tidak ada kalor yang masuk atau keluar dari silinder.
Setelah itu gas ditekan secara isotermal (c-d). Selama penekanan isotermal,
suhu gas dijaga agar selalu konstan. Seluruh proses pada siklus Carnot bersifat
reversibel…
Selama pemuaian isotermal dan penekanan isotermal, suhu gas dijaga agar selalu konstan. Tujuannya adalah menghindari adanya perbedaan suhu. Adanya perbedaan suhu bisa menyebabkan terjadi perpindahan kalor (proses ireversibel). Agar proses isotermal bisa terjadi (suhu gas selalu konstan) maka gas harus dimuaikan atau ditekan secara perlahan-lahan. Dalam kenyataannya, pemuaian atau penekanan gas terjadi lebih cepat. Hal ini diakibatkan oleh adanya turbulensi (ingat materi fluida dinamis), gesekan, viskositas alias kekentalan dkk. Akibatnya, proses isotermal yang sempurna tidak akan pernah ada. Sebaliknya, pemuaian dan penekanan adiabatik dilakukan dengan cepat. Tujuannya adalah menjaga agar kalor tidak mengalir menuju silinder atau kabur dari silinder. Adaya gesekan, viskositas alias kekentalan dkk menyebabkan pemuaian dan penekanan adiabatik sempurna tidak akan pernah ada. Perlu diketahui bahwa mesin Carnot hanya bersifat teoritis saja. Mesin carnot tidak ada dalam kehidupan kita. Walaupun hanya bersifat teoritis saja tetapi adanya mesin Carnot sangat membantu pengembangan ilmu termodinamika. Minimal kita bisa mengetahui setiap proses ireversibel yang mungkin terjadi selama proses dan berupaya untuk meminimalkannya sehingga efisiensi mesin kalor rancangan kita bisa bernilai maksimum.
Hasil yang sangat penting dari mesin Carnot adalah bahwa untuk mesin kalor yang sempurna (semua proses reversibel), Kalor yang diserap (QH) sebanding dengan suhu TH dan Kalor yang dibuang (QL) sebanding dengan suhu TL. Dengan demikian, efisiensi mesin kalor sempurna adalah :
Selama pemuaian isotermal dan penekanan isotermal, suhu gas dijaga agar selalu konstan. Tujuannya adalah menghindari adanya perbedaan suhu. Adanya perbedaan suhu bisa menyebabkan terjadi perpindahan kalor (proses ireversibel). Agar proses isotermal bisa terjadi (suhu gas selalu konstan) maka gas harus dimuaikan atau ditekan secara perlahan-lahan. Dalam kenyataannya, pemuaian atau penekanan gas terjadi lebih cepat. Hal ini diakibatkan oleh adanya turbulensi (ingat materi fluida dinamis), gesekan, viskositas alias kekentalan dkk. Akibatnya, proses isotermal yang sempurna tidak akan pernah ada. Sebaliknya, pemuaian dan penekanan adiabatik dilakukan dengan cepat. Tujuannya adalah menjaga agar kalor tidak mengalir menuju silinder atau kabur dari silinder. Adaya gesekan, viskositas alias kekentalan dkk menyebabkan pemuaian dan penekanan adiabatik sempurna tidak akan pernah ada. Perlu diketahui bahwa mesin Carnot hanya bersifat teoritis saja. Mesin carnot tidak ada dalam kehidupan kita. Walaupun hanya bersifat teoritis saja tetapi adanya mesin Carnot sangat membantu pengembangan ilmu termodinamika. Minimal kita bisa mengetahui setiap proses ireversibel yang mungkin terjadi selama proses dan berupaya untuk meminimalkannya sehingga efisiensi mesin kalor rancangan kita bisa bernilai maksimum.
Hasil yang sangat penting dari mesin Carnot adalah bahwa untuk mesin kalor yang sempurna (semua proses reversibel), Kalor yang diserap (QH) sebanding dengan suhu TH dan Kalor yang dibuang (QL) sebanding dengan suhu TL. Dengan demikian, efisiensi mesin kalor sempurna adalah :

Contoh
soal 1 :
Sebuah mesin uap bekerja antara suhu 500 oC dan 300 oC. Tentukan efisiensi ideal (efisiensi Carnot) dari mesin uap tersebut.
Panduan jawaban :
Suhu harus diubah ke dalam skala kelvin
TH (suhu tinggi) = 500 C = 500 + 273 = 773 K
TL (suhu rendah) = 300 oC = 300 + 273 = 573 K
Sebuah mesin uap bekerja antara suhu 500 oC dan 300 oC. Tentukan efisiensi ideal (efisiensi Carnot) dari mesin uap tersebut.
Panduan jawaban :
Suhu harus diubah ke dalam skala kelvin
TH (suhu tinggi) = 500 C = 500 + 273 = 773 K
TL (suhu rendah) = 300 oC = 300 + 273 = 573 K

Efisiensi
ideal atau efisiensi mesin kalor sempurna yang bekerja antara suhu 500 oC dan
300 oC adalah 26 %. Apabila mesin yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari
bekerja antara suhu 500 oC dan 300 oC, efisiensi maksimum yang bisa dicapai
mesin tersebut biasanya sekitar 0,7 kali efisiensi ideal (18,2 %). Hal ini
dipengaruhi oleh adanya gesekan dan proses ireversibel lainnya…
Contoh soal 2 :
Sebuah mesin kalor menerima kalor (Q) sebanyak 600 Joule pada suhu 300 oC, melakukan kerja (W) 100 Joule dan membuang 500 J pada suhu 100 oC. Tentukan efisiensi sebenarnya dan efisiensi ideal (efisiensi Carnot) mesin ini…
Panduan jawaban :
Suhu harus diubah ke dalam skala Kelvin
TH (suhu tinggi) = 300 oC — 300 + 273 = 573 K
TL (suhu rendah) = 100 oC — 100 + 273 = 373 K
QH = 600 J
QL = 500 J
Efisiensi mesin :
Contoh soal 2 :
Sebuah mesin kalor menerima kalor (Q) sebanyak 600 Joule pada suhu 300 oC, melakukan kerja (W) 100 Joule dan membuang 500 J pada suhu 100 oC. Tentukan efisiensi sebenarnya dan efisiensi ideal (efisiensi Carnot) mesin ini…
Panduan jawaban :
Suhu harus diubah ke dalam skala Kelvin
TH (suhu tinggi) = 300 oC — 300 + 273 = 573 K
TL (suhu rendah) = 100 oC — 100 + 273 = 373 K
QH = 600 J
QL = 500 J
Efisiensi mesin :

Efisiensi
ideal mesin ini :

Efisiensi
ideal atau efisiensi mesin kalor sempurna yang bekerja antara suhu 300 oC dan
100 oC adalah 35 %. Efisiensi maksimum yang bisa dicapai mesin tersebut
biasanya sekitar 0,7 kali efisiensi ideal = 0,7 x 35 % = 24,5 % (24,5 % x 600 J
= 147 J kalor yang bisa digunakan untuk melakukan kerja).
Efisiensi sebenarnya dari mesin ini adalah 17 % (hanya 100 J kalor yang digunakan untuk melakukan kerja). Masih sekitar 147 J – 100 J = 47 J kalor yang bisa dipakai untuk melakukan kerja… Alangkah baiknya jika efisiensi mesin ini dtingkatkan, sehingga kerugian yang kita terima diminimalkan. Prinsip ekonomi juga perlu diterapkan dalam ilmu fisika
Contoh soal 3 :
Sebuah mesin menerima 1000 Joule kalor dan menghasilkan 400 Joule kerja pada setiap siklus. Mesin ini bekerja di antara suhu 500 oC dan 200 oC. Berapakah efisiensi sebenarnya dan efisiensi ideal mesin ini ?
Panduan jawaban :
TH (suhu tinggi) = 500 oC — 500 + 273 = 773 K
TL (suhu rendah) = 200 oC — 200 + 273 = 473 K
QH = 1000 J
QL = 400 J
Efisiensi mesin :
Efisiensi sebenarnya dari mesin ini adalah 17 % (hanya 100 J kalor yang digunakan untuk melakukan kerja). Masih sekitar 147 J – 100 J = 47 J kalor yang bisa dipakai untuk melakukan kerja… Alangkah baiknya jika efisiensi mesin ini dtingkatkan, sehingga kerugian yang kita terima diminimalkan. Prinsip ekonomi juga perlu diterapkan dalam ilmu fisika
Contoh soal 3 :
Sebuah mesin menerima 1000 Joule kalor dan menghasilkan 400 Joule kerja pada setiap siklus. Mesin ini bekerja di antara suhu 500 oC dan 200 oC. Berapakah efisiensi sebenarnya dan efisiensi ideal mesin ini ?
Panduan jawaban :
TH (suhu tinggi) = 500 oC — 500 + 273 = 773 K
TL (suhu rendah) = 200 oC — 200 + 273 = 473 K
QH = 1000 J
QL = 400 J
Efisiensi mesin :

Efisiensi
ideal mesin ini :

Efisiensi
ideal alias efisiensi carnot = 40 %. Efisiensi mesin sebenarnya = 60 %… Mesin
seperti ini tidak ada. Efisiensi mesin tidak mungkin melebihi efisiensi ideal
alias efisiensi om Carnot…
Contoh soal 4 :
Agar efisiensi ideal alias efisiensi mesin Carnot mencapai 100 % (1), berapakah suhu pembuangan (TL) yang diperlukan ?
Panduan jawaban :
Contoh soal 4 :
Agar efisiensi ideal alias efisiensi mesin Carnot mencapai 100 % (1), berapakah suhu pembuangan (TL) yang diperlukan ?
Panduan jawaban :

Agar efisiensi ideal alias efisiensi mesin
kalor sempurna bisa mencapai 100 % (semua kalor masukkan bisa digunakan untuk
melakukan kerja) maka suhu pembuangan (TL) harus = 0 K.
BAB
III
PENTUP
3.1
KESIMPULAN
Bahwa
termodinamika, merupakan Ilmu yang mempelajari tenteng Energi spesifiknya
mengenai energi panas dan kerjanya, dll. Proses yang terjadi didalamnya bisa
terjadi secara alami ataupun rekayasa teknologi
3.2
Saran
Kita
sudah sepatutnya bersyukur atas kejadian- kejadian alam yang bermanfaat bagi
kita dan harus bisa menggali ilmu alam itu lebih dalam. Selain itu diharapkan
ada tambahan materi mengenai Termodinamika ini, karena apa yang kami muat
didalam makalah ini belum tentu sempurna dan baik.




Pembaca yang baik, selalu meninggalkan jejak di kotak komentar ^^
BalasHapus