Kata pengantar
Segala puji dan ssyukur yang tiada
hentinya bagi Allah SWT, yang telah menolong hambanya untuk menyelesaikan
makalah ini dengan penuh kemudahan. tanpa pertolongan, rahmaat dan karunianya,
kami idak sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas akhir semester untuk bidang study kimia, dan lebih lanjut
semoga makalah ini bemanfaat unuk menambah pengetahuan seputar koloid.
Dalaam penyusunan makalah ini, kami
tim penyusun telah berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan kami. Namun
sebagai manusia biasa, kami tidak luput dari kesalahan. Tapi walaupun demikian
kami berusaha sebisa mungkin menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Semoga makalah ini dapat memberikan
wawasan yang lebih luas kepada pembaca, khususnya kami.
PETA KONSEP
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dahulu ice cream dianggap sebagai makanan
A.
Pengertian dan
Jenis-jenis Koloid
1.
Pengertian
Koloid adalah suatu campuran zat
heterogen antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel
zat yang berukuran koloid tersebar merata dalam zat lain. Ukuran koloid
berkisar antara 1-100 nm ( 10-7 – 10-5 cm ).
Contoh:
Mayones dan cat, mayones adalah campuran
homogen di air
dan minyak dan cat adalah campuran homogen zat
padat dan zat cair.
Perbedaan
larutan sejati, sistem koloid, dan suspensi kasar.
Keterangan:
1. Larutan sejati
2. Sistem koloid
3. Suspensi Kasar
Jumlah fase
1. 1
2. 2
3. 2
Distribusi partikel
1. Homogen
2. Heterogen
3. Heterogen
Ukuran partikel
1. <10-7>10-5cm
Penyaringan
1. Tidak dapat disaring
2. Tidak dapat disaring, kecuali dengan penyaring ultra
3. Dapat disaring
Kestabilan
1. Stabil, tidak memisah
2. Stabil, tidak memisah
3. Tidak stabil, memisah
Contoh
1. Larutan gula, larutan garam, Udara bersih
2. Tepung kanji dalam air, Mayones, Debu di udara
3. Campuran pasir dan air,
Sel darah merah dan plasma putih dalam plasma darah.
Jenis - Jenis Koloid :
1. Sol (fase terdispersi padat)
a. Sol padat adalah sol dalam medium pendispersi padat
Contoh: paduan logam, gelas warna, intan hitam
b. Sol cair adalah sol dalam medium pendispersi cair
Contoh: cat, tinta,
tepung dalam air, tanah liat
c. Sol gas adalah sol dalam medium pendispersi gas
Contoh: debu di udara, asap pembakaran
2. Emulsi (fase terdispersi cair)
a. Emulsi padat adalah emulsi dalam medium pendispersi padat
Contoh: Jelly, keju, mentega, nasi
b. Emulsi cair adalah emulsi dalam medium pendispersi cair
Contoh: susu, mayones, krim tangan
c. Emulsi gas adalah emulsi dalam medium pendispersi gas
Contoh: hairspray dan obat nyamuk
3. BUIH (fase terdispersi gas)
a. Buih padat adalah buih dalam medium pendispersi padat
Contoh: Batu apung, marshmallow, karet busa, Styrofoam
b. Buih cair adalah buih dalam medium pendispersi cair
Contoh: putih telur yang dikocok, busa sabun
- Untuk pengelompokan buih, jika fase terdispersi dan medium
pendispersi sama-sama berupa gas, campurannya tergolong larutan.
Koloid Sol
SIFAT-SIFAT
KOLOID SOL
a.
Efek Tyndall
Sifat pengahamburan cahaya oleh koloid di
temukan oleh John
Tyndall, oleh karena itu sifat ini dinamakan
Tyndall. Efek dari Tyndall digunakan untuk membedakan system koloid dari
larutan sejati, contoh dalam kehidupan sehari – hari dapat diamati dari langit
yang tampak berwarna biru atau terkandang merah/oranye.
Selain itu contoh lainnya adalah pada koloid kanji dan
larutan Na2Cr2O7, maka sinar dihamburkan oleh system koloid tetapi tidak
dihamburkan oleh larutan sejati hal ini dapat dilihat terdapat berkas sinar
pada larutan. Larutan koloid kanji memiliki partikel-partikel koloid relatif
besar untuk dapat menhamburkan sinar dan sebaliknya Na2Cr2O7 memiliki
partikel-partikel yang relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi sedikit
kecil dan sulit diamati.
b.
Gerak Brown
Dibawah mikroskop ultra, partikel koloid akan tampak
sebagai titik cahaya. Jika pergerakan titik cahaya atau partikel tersebut
diikuti, partikel itu bergerak terus-menerus dengan gerakan zigzag. Hal ini
pertama kali diamati oleh Robert Brown (1773-1858), seorang ahli botani inggris
pada tahun 1827. Ia sedang mengamati butiran sari tumbuhan pada permukaan air
dean mikroskop. Partikel koloid dalam medium pendispersinya disebut gerak
brown.
Bagaimana
gerak brown dijelaskan?
Partikel – partikel suatu zat senantiasa
bergerak. Gerakan tersebut bersifat acak seperti pada zat cair dan gas. System
koloid dengan medium pendipersi zat cair atau gas, partikel-partikel
menghasilkan tumbukan. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Partikel
koloid cukup kecil, tumbukan cenderung tidak seimbang. Dan menyebabkan
perubahan arah partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak brown.
Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak
brown. Semakin besar ukuran partikel, semakin lambat gerak brown.
Gerak Brown dipengerahui oleh suhu. Semakin tinggi suhu
system, koloid, semakin besar energi kinektik yang dimiliki partikel medium.
Akibatnya, gerak Brown dari partikel fase terdispersinya semakin cepat. Semakin
rendah suhu system koloid, maka gerak Brown semakin lambat.
c.
Adsorpsi koloid
Partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair
atau gas, maka partikel zat cair atau gas akan terakumulasi. Fenomena disebut
adsorpsi. Jadi sdsorpsi terkait dengan penyerapan partikel pada permukaan zat.
Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel pendispersi
pada permukaanya. Daya adsorpsi partikel koloid tergolong besar Karenna
partikelnya memberikan sesuatu permukaan yang luas. Sifat ini telah digunakan
dalam berbagai proses seperti penjernihan air.
d.
Muatan koloid sol
Sifat koloid terpenting adalah muatan partikel
koloid. Semua partikel koloid memiliki muatan sejenis (positif dan negatif).
Maka terdapat gaya tolak menolak antar partikel koloid. Partikel koloid tidak
dapat bergabung sehingga memberikan kestabilan pada sistem koloid. Sistem
koloid secara keseluruhan bersifat netral.
i. Sumber muatan
koloid sol
Partikel-partikel koloid mendapat mutan listrik melalui dua
cara, yaitu dengan proses adsorpsi dan proses ionisasi gugus permukaan
partikelnya.
- Proses adsorpsi
Partikel koloiddapat mengadsorpsi partikel bermuatan dari
fase pendispersinya. Jenis muatan tergantung dari jenis partikel yang
bermuatan. Partikel sol Fel (OH)3 kemampuan untuk mengadsorpsi kation dari
medium pendisperinya sehingga bermuatan positif, sedangkal partikel sol As2S3
mengadsorpsi anion dari medium pendispersinya sehingga bermuatan negatif.
Sol AgCI dalam medium pendispersi dengan kation Ag+
berlebihan akan mengadsorpsi Ag+ sehingga bermuatan positif. Jika anion CI-
berlebih, maka sol AgCI akan mengadsorpsi ion CI- sehingga bermuatan positif.
- Proses ionisasi gugus permukaan partikel
Beberapa partikel koloid memperoleh muatan dari proses
ionisasi gugus-gugus yang ada pada permukaan partikel koloid.
Ø Koloid protein
Koloid protein adalah jenis koloid sol yang
mempunyai gugus yang bersifat asam (-COOH) dan biasa (-NH2). Kedua gugus ini
dapat terionisasi dan memberikan muatan pada molekul protein.
Pada ph rendah , gugus basa –NH2 akan menerima proton dan
membentuk gugus –NH3. Ph tinggi, gugus –COOH akan mendonorkan proton dan
membentuk gugus – COO-. Pada ph intermediet partikel protein bermuatan netral
karena muatan –NH3+ dan COO- saling meniadakan.
Ø Koloid sabun dan deterjen
Pada konsentrasi relatif pekat, molekul ini dapat
bergabung membentuk partikel berukuran koloid yang disebut misel. Zat yang
molejulnya bergabung secara spontan dalam suatu fase pendispersi dan membentuk
partikel berukuran koloid disebut koloid terasosiasi.
Sabun adalah garam karboksilat dengan rumus R-COO-Na+.
Anion R-COO- terdiri dari gugus R- yang bersifat non pola.
Gugus R- atau ekor non-polar tidak larut dalam air sehingga akan terorientasi
ke pusat.
ii. Kestabilan Koloid
Muatan partikel koloid adalah sejenis cenderung karena sering
tolak-monolak.
iii.Lapisan bermutar
ganda
Permukaan partikel Koloid mendapat muatan bahwa
partikel-partikel. lapisan bermuatan listrik ini selanjutnya akan menarik
ion-ion dengan
Bagaimana sebenarnya struktur dari lapisan bermuatan ganda
ini?
Permukaan lapisan ganda ini mengikuti model Helmoslzt.
Sekarang model yang lebih akurat adalah :
Lapisan padat : koloid menarik ion-ion dengan muatan yang
berlawanan.
Lapisandifusi : merupakan lapisan dimana muatan berlawanan
dari medium pendispersi difusi
iv.Elektroforesis :
Partikel koloid sol bermuatan listrik, maka partikel ini akan
bergerak dalm medan listrik. Pergerakan partikel koloid dalam medan listrik
disebut elektrofesis.
Femonema elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan
jenis muatan partikel koloid.
e.
Koagulasi
Partikel-partikel koloid yang bersifat stabil karena memiliki
muatan listrik sejenis. Apabila muatan listrik itu hilang , maka partikel
koloid tersebut akan bergabung membentuk gumpalan. Proses penggumpalan partikel
koloid dan pengendapannya disebut Koagulasi.
Penghilangan muatan listrik pada partikel koloid ini dapat
dilakukan empat cara yaitu :
i.
Menggunakan prinsip elektroforesis
Proses elektroforesis adaalh pergerakan partikel koloid yang
bermuatan ke electrode dengan muatan berlawanan. Ketika partikel mencapai
electrode, maka partikel akan kehilangan muatannya.
ii.
Penambahan koloid lain dengan muatan berlawanan
Sistem koloid bermuatan positif dicampur dengan sistem koloid
lain yang bermuatan negatif, kedua koloid tersebut akan saling mengadsorpsi
menjadi netral maka terbentuk kogulasi.
iii.Penambahan
elektrolit
Elektrolit ditambahkan kedalam sistem koloid maka partikel
koloid yang bermuatan negatif akan menarik ion positif dari elektrolit.
Partikel koloid yang bermuatan positif akan menarik ion negatif dari
elektrolit. Menyebabkan partikel koloid tersebut dikelilingi lapisan kedua yang
memiliki muatan berlawanan.
iv.Pendidihan
Kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan jumlah tumbukan
antara partikel-partikel sol dengan molekul-molekul air bertambah banyak.
Menyebabkan lepasnya elekrolit yang teradsorpsi pada permukaan koloid.
f.
Koloid pelindung
- Sistem koloid dimana partikel terdisperesinya mempunyai
daya adsorpsi yang relatif besar disebut koloid liofil.
- Sistem koloid dimana partikel terdisperesinya mempunyai
daya adsorpsi yang relatif kecil disebut koloid liofob.
- Koloid lioil bersifat stabil, sedangkan koloid liofob
kurang stabil. Koloid liofil yang berfungsi sebagai koloid pelindung.
Ukuran partikel koloid berada di antara partikel larutan dan
suspensi, karena itu cara pembuatannya dapat dilakukan dengan memperbesar
partikel larutan atau memperkecil partikel suspensi. Maka dari itu, ada dua
metode dasar dalam pembuatan iystem koloid sol, yaitu:
- Metode kondensasi yang
merupakan metode bergabungnya partikel-partikel kecil larutan sejati yang
membentuk partikel-partikel berukuran koloid.
- Metode dispersi yang
merupakan metode dipecahnya partikel-partikel besar sehingga menjadi partikel-partikel
berukuran koloid.
Metode
Kondensasi
Pembuatan koloid sol dengan metode ini pada umumnya dilakukan
dengan cara kimia (dekomposisi rangkap, hidrolisis, dan redoks) atau dengan
penggatian pelarut. Cara kimia tersebut bekerja dengan menggabungkan partikel-partikel
larutan (atom, ion, atau molekul) menjadi pertikel-partikel berukuran koloid.
*
Reaksi dekomposisi rangkap
Misalnya:
- Sol As2S3 dibuat dengan gaya mengalirkan H2S dengan
perlahan-lahan melalui larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang
berwarna kuning terang;
As2O3 (aq) + 3H2S(g) Ã As2O3 (koloid) + 3H2O(l)
(Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap
ion S2-)
- Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 encer dan
larutan HCl encer;
AgNO3 (ag) + HCl(aq) Ã AgCl (koloid) + HNO3 (aq)
*
Reaksi hidrolisis
Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air. Misalanya:
- Sol Fe(OH3) dapat dibuat dengan hidrolisis larutan FeCl3
dengan memanaskan larutan FeCl3 atau reaksi hidrolisis garam Fe dalam air
mendidih;
FeCl3 (aq) + 3H2O(l) Ã Fe(OH) 3 (koloid) + 3HCl(aq)
(Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya
menyerap ion H+)
- Sol Al(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi hidrolisis garam Al
dalam air mendidih;
AlCl3 (aq) + 3H2O(l) Ã Al(OH) 3 (koloid) + 3HCl(aq)
*
Reaksi reduksi-oksidasi (redoks)
Misalnya:
- Sol emas atau sol Au dapat dibuat dengan mereduksi larutan
garamnya dengan melarutkan AuCl3 dalam pereduksi organic formaldehida HCOH;
2AuCl3 (aq) + HCOH(aq) + 3H2O(l) Ã 2Au(s) + HCOOH(aq) +
6HCl(aq)
- Sol belerang dapat dibuat dengan mereduksi SO2 yang
terlarut dalam air dengan mengalirinya gas H2S ;
2H2S(g) + SO2 (aq) Ã 3S(s) + 2H2O(l)
*
Penggatian pelarut
Cara ini dilakukan dengan mengganti medium pendispersi
sehingga fasa terdispersi yang semulal arut setelah diganti pelarutanya menjadi
berukuran koloid. Misalnya;
- untuk membuat sol belerang yang sukar larut dalam air
tetapi mudah larut dalam alkohol seperti etanol dengan medium pendispersi air,
belarang harus terlenih dahulu dilarutkan dalam etanol sampai jenuh. Baru
kemudian larutan belerang dalam etanol tersebut ditambahkan sedikit demi
sedikit ke dalam air sambil diaduk. Sehingga belerang akan menggumpal menjadi
pertikel koloid dikarenakan penurunan kelarutan belerang dalam air.
- Sebaliknya, kalsium asetat yang sukar larut dalam etanol,
mula-mula dilarutkan terlebih dahulu dalam air, kemudianbaru dalam larutan
tersebut ditambahkan etanol maka terjadi kondensasi dan terbentuklah koloid
kalsium asetat.
2.
Metode Dispersi
Metode ini melibatkan pemecahan partikel-partikel kasar
menjadi berukuran koloid yang kemudian akan didispersikan dalam medium
pendispersinya. Ada 3 cara dalam metode ini, yaitu:
*
Cara Mekanik
Cara mekanik adalah penghalusan partikel-partikel kasar zat
padat dengan proses penggilingan untuk dapat membentuk partikel-partikel
berukuran koloid. Alat yang digunakan untuk cara ini biasa disebut penggilingan
koloid, yang biasa digunakan dalam:
- industri makanan untuk membuat jus buah, selai, krim, es
krim,dsb.
- Industri kimia rumah tangga untuk membuat pasta gigi, semir
sepatu, deterjen, dsb.
- Industri kimia untuk membuat pelumas padat, cat dan zat
pewarna.
- Industri-industri lainnya seperti industri plastik,
farmasi, tekstil, dan kertas.
Sistem kerja alat penggilingan koloid:
Alat ini memiliki 2 pelat baja dengan arah rotasi yang
berlawanan. Partikel-partikel yang kasar akan digiling melalui ruang antara
kedua pelat baja tersebut. Kemudian, terbentuklah partikel-partikel berukuran
koloid yang kemudian didispersikan dalam medium pendispersinya untuk membentuk
sistem koloid. Contoh kolid yang dibuat adalah; pelumas, tinta cetak, dsb.
*
Cara peptisasi
Cara peptisasi adalah pembuatan koloid / sistem koloid dari
butir-butir kasar atau dari suatu endapan / proses pendispersi endapan dengan
bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Zat pemecah tersebut dapat berupa
elektrolit khususnya yang mengandung ion sejenis ataupun pelarut tertentu.
Contoh:
- Agar-agar dipeptisasi oleh air ; karet oleh bensin.
- Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S ; endapan Al(OH) 3 oleh
AlCl3.
- Sol Fe(OH) 3 diperoleh dengan mengaduk endapan Fe(OH) 33
yang baru terbentuk dengan sedikit FeCl3. Sol Fe(OH) 3 kemudian dikelilingi
Fe+3 sehingga bermuatan positif
- Beberapa zat mudah terdispersi dalam pelarut tertentu dan
membnetuk sistem kolid. Contohnya; gelatin dalam air.
*
Cara Busur Bredig
Cara busur Bredig ini biasanya digunakan untuk membuat
sol-sol logam, sperti Ag, Au, dan Pt. Dalam cara ini, logam yang akan diubah
menjadi partikel-partikel kolid akan digunakan sebagai elektrode. Kemudian
kedua logam dicelupkan ke dalam medium pendispersinya (air suling dingin)
sampai kedua ujungnya saling berdekatan. Kemudian, kedua elektrode akan diberi
loncatan listrik. Panas yang timbul akan menyebabkan logam menguap, uapnya
kemudian akan terkondensasi dalam medium pendispersi dingin, sehingga hasil
kondensasi tersebut berupa pertikel-pertikel kolid. Karena logam diubah jadi
partikel kolid dengan proses uap logam, maka metode ini dikategorikan sebagai
metode dispersi.
PEMURNIAN
KOLOID SOL
Seringkali terdapat zat-zat terlarut yang tidak diinginkan
dalam suatu pembuatan suatu sistem koloid. Partikel-partikel tersebut haruslah
dihilangkan atau dimurnikan guna menjaga kestabilan kolid. Ada beberapa metode
pemurnian yang dapat digunakan, yaitu:
Dialisis
Dialisis adalah proses pemurnian partikel koloid dari
muatan-muatan yang menempel pada permukaannya. Pada proses dialisis ini
digunakan selaput semipermeabel. Pergerakan ion-ion dan molekul – molekul kecil
melalui selaput semipermiabel disebut dialysis. Suatu koloid biasanya bercampur
dengan ion-ion pengganggu, karena pertikel koloid memiliki sifat mengadsorbsi.
Pemisahan ion penggangu dapat dilakukan dengan memasukkan koloid ke dalam
kertas/membran semipermiabel (selofan), baru kemudian akan dialiri air yang
mengalir. Karena diameter ion pengganggu jauh lebih kecil daripada kolid, ion
pengganggu akan merembes melewati pori-pori kertas selofan, sedangkan partikel
kolid akan tertinggal.
Proses dialisis untuk pemisahan partikel-partikel koloid dan
zat terlarut dijadikan dasar bagi pengembangan dialisator. Salah satu aplikasi
dialisator adalah sebagai mesin pencuci darah untuk penderita gagal ginjal.
Jaringan ginjal bersifat semipermiabel, selaput ginjal hanya dapat dilewati
oleh air dan molekul sederhana seperti urea, tetapi menahan partikel-partikel
kolid seperti sel-sel darah merah.
Elektrodialisis
Pada dasarnya proses ini adalah proses dialysis di bawah
pengaruh medan listrik. Cara kerjanya; listrik tegangan tinggi dialirkan
melalui dua layer logam yang menyokong selaput semipermiabel. Sehingga
pertikel-partikel zat terlarut dalam sistem koloid berupa ion-ion akan bergerak
menuju elektrode dengan muatan berlawanan. Adanya pengaruh medanlistrik
akanmempercepat proses pemurnian sistem koloid.
Elektrodialisis hanya dapat digunakan untuk memisahkan
partikel-partikel zat terlarut elektrolit karena elektrodialisis melibatkan
arus listrik.
Penyaring
Ultra
Partikel-partikel kolid tidak dapat disaring biasa seperti
kertas saring, karena pori-pori kertas saring terlalu besar dibandingkan ukuran
partikel-partikel tersebut. Tetapi, bila kertas saring tersebut diresapi dengan
selulosa seperti selofan, maka ukuran pori-pori kertas akan sering berkurang.
Kertas saring yang dimodifikasi tersebut disebut penyaring ultra.
Proses pemurnian dengan menggunakan penyaring ultra ini
termasuklambat, jadi tekanan harus dinaikkan untuk mempercepat proses ini.
Terakhir, partikel-pertikel koloid akan teringgal di kertas saring.
Partikel-partikel kolid akan dapat dipisahkan berdasarkan ukurannya, dengan
menggunakan penyaring ultra bertahap.
KOLOID EMULSI
Emulsi adalah suatu sistem koloid yang fase terdispersinya
dapat berupa zat padat, cair, dan gas, tapi kebanyakan adalah zat cair
(contohnya: air dengan minyak). Pada umumnya emulsi kurang mantap, kemantapan
emulsi dapat terlihat pada keadaannya yang selalu keruh seperti; susu, santan,
dsb. Untuk memantapkan emulsi diperlukan zat pemantap yang disebut emulgator.
Emulsi
Gas
Emulsi gas dapat disebut juga aerosol cair yang adalah emulsi
dalam medium pendispersi gas. Pada aerosol cair, seperti; hairspray dan obat
nyamuk dalam kemasan kaleng, untuk dapat membentuk system koloid atau
menghasilkan semprot aerosol yang diperlukan, dibutuhkan bantuan bahan
pendorong/ propelan aerosol, anatar lain; CFC (klorofuorokarbon atau Freon).
Aerosol cair juga memiliki sifat-sifat seperti sol liofob;
efek Tyndall, gerak Brown, dan kestabilan denganmuatan partikel.
Contoh: dalam hutan yang lebat, cahaya matahari akan
disebarkan oleh partikel-partikel koloid dari sistem koloid kabut merupakan
contoh efek Tyndall pada aerosol cair.
Emulsi
Cair
Emulsi cair melibatkan dua zat cair yang tercampur, tetapi
tidak dapat saling melarutkan, dapt juga disebut zat cair polar &zat cair
non-polar. Biasanya salah satu zat cair ini adalah air (zat cair polar) dan zat
lainnya; minyak (zat cair non-polar). Emulsi cair itu sendiri dapat digolongkan
menjadi 2 jenis, yaitu; emulsi minyak dalam air (cth: susu yang terdiri dari
lemak yang terdispersi dalam air,jadi butiran minyak di dalam air), atau emulsi
air dalam minyak (cth: margarine yang terdiri dari air yang terdispersi dalam
minyak, jadi butiran air dalam minyak).
Bagaimana
air dan minyak dapat bercampur sehingga membentuk emulsi cair?
Air dan minyak dapat bercampur membentuk emulsi cair apabila
suatu pengemulsi (emulgator) ditambahkan dalam larutan tersebut. Karena
kebanyakan emulsi adalah dispersiair dalam mnyak, dan dispersiminyak dalam air,
maka zat pengemulsi yang digunakan harus dapat larut dengan baik di dalam air
maupun minyak. Contoh pengemulsi tersebut adalah senyawa organic yang memiliki
gugus polar dan non-polar. Bagian non-polar akan berinteraksi dengan minyak/
mengelilingi partikel-partikel minyak, sedangkan bagian yang polar akan
berinteraksi kuat dengan air. Apabila bagian polar ini terionisasi menjadi
bermuatan negative, maka pertikel-partikel minyak juga akan bermuatan negatif.
Muatan tersebut akan mengakibatkan pertikel-partikel minyak saling
tolak-menolak dan tidak akan bergabung, sehingga emulsi menjadi stabil.
Contohnya: ada sabun yang merupakan garam karboksilat.
Molekul sabun tersusun dari “ekor” alkil yang non-polar (larut dalam minyak)
dan kepala ion karboksilat yang polar (larut dalam air). Prinsip tersebut yang
menyebabkan sabun dan deterjen memiliki daya pembersih. Ketika kita mandi atau
mencuci pakaian, “ekor” non-polar dari sabun akan menempel pada kotoran dan
kepala polarnya menempel pada air. Sehingga tegangan permukaan air akan semakin
berkurang, sehingga air akan jauh lebih mudah untuk menarik kotoran.
Beberapa
sifat emulsi yang penting:
-
Demulsifikasi
Kestabilan emulsi cair dapat rusak apabila terjadi pemansan,
proses sentrifugasi, pendinginan, penambahan elektrolit, dan perusakan zat
pengemulsi. Krim atau creaming atau sedimentasi dapat terbentuk pada proses
ini. Pembentukan krim dapat kita jumpai pada emulsi minyak dalam air, apabila
kestabilan emulsi ini rusak,maka pertikel-partikel minyak akan naik ke atas
membentuk krim. Sedangkan sedimentasi yang terjadi pada emulsi air dalam
minyak; apabila kestabilan emulsi ini rusak, maka partikel-partikel air akan turun
ke bawah. Contoh penggunaan proses ini adalah: penggunaan proses demulsifikasi
dengan penmabahan elektrolit untukmemisahkan karet dalam lateks yang dilakukan
dengan penambahan asam format (CHOOH) atau asam asetat (CH3COOH).
-
Pengenceran
Dengan menambahkan sejumlah medium pendispersinya, emulsi
dapat diencerkan. Sebaliknya, fase terdispersi yang dicampurkan akan dengan
spontan membentuk lapisan terpisah. Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk
menentukan jenis emulsi.
Emulsi
Padat atau gel
Gel adalah emulsi dalam medium pendispersi zat padat, dapat
juga dianggap sebagai hasil bentukkan dari penggumpalan sebagian sol cair.
Partikel-partikel sol akan bergabung untuk membentuk suatu rantai panjang pada
proses penggumpalan ini. Rantai tersebut akan saling bertaut sehingga membentuk
suatu struktur padatan di mana medium pendispersi cair terperangkap dalam
lubang-lubang struktur tersebut. Sehingga, terbentuklah suatu massa berpori
yang semi-padat dengan struktur gel. Ada dua jenis gel, yaitu:
(i)
Gel elastis
Karena ikatan partikel pada rantai adalah adalah gaya
tarik-menarik yang relatif tidak kuat, sehingga gel ini bersifat elastis.
Maksudnya adalah gel ini dapat berubah bentuk jika diberi gaya dan dapat
kembali ke bentuk awal bila gaya tersebut ditiadakan. Gel elastis dapat dibuat
dengan mendinginkan sol iofil yang cukup pekat. Contoh gel elastis adalah
gelatin dan sabun.
(ii)
Gel non-elastis
Karena ikatan pada rantai berupa ikatan kovalen yang cukup
kuat, maka gel ini dapat bersifat non-elastis. Maksudnya adalah gel ini tidak
memiliki sifat elastis, gel ini tidak akan berubah jika diberi suatu gaya.
Salah satu contoh gel ini adalah gel silica yang dapat dibuat dengan reaksi
kia; menambahkan HCl pekat ke dalam larutan natrium silikat, sehingga molekul-molekul
asam silikat yang terbentuk akan terpolimerisasi dan membentuk gel silika.
Beberapa
sifat gel yang penting adalah:
-
Hidrasi
Gel non-elastis yang terdehidrasi tidak dapat diubah kembali
ke bentuk awalanya, tetapi sebaliknya, gel elastis yang terdehidrasi dapat
diubah kembali menjadi gel elastis dengan menambahkan zat cair.
- Menggembung (swelling)
Gel elastis yang terdehidrasi sebagian akan menyerap air
apabila dicelupkan ke dalam zat cair. Sehingga volum gel akan bertambah dan
menggembung.
-
Sineresis
Gel anorganik akan mengerut bila dibiarkan dan diikuti
penetesan pelarut, dan proses ini disebut sineresis.
-
Tiksotropi
Beberapa gel dapat diubah kembali menjadi sol cair apabila
diberi agitasi atau diaduk. Sifat ini disebut tiksotropi. Contohnya adalah gel
besi oksida, perak oksida, dsb.
Koloid Buih
Buih adalah koolid dengan fase
terdisperasi gas dan medium pendisperasi zat cair atau zat padat. Baerdasarkan
medium pendisperasinya, buih dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
Buih Cair (Buih)
Buih cair adalah sistem koloid dengan fase
terdisperasi gas dan dengan medium pendisperasi zat cair. Fase terdisperasi gas
pada umumnya berupa udara atao karbondioksida yang terbetuk dari fermentasi.
Kestabilan buih dapat diperoleh dari adanya zat pembuih (surfaktan). Zat ini
teradsorbsi ke daerah antar-fase dan mengikat gelembung-gelembung gas sehingga
diperoleh suatu kestabilan.
Ukuran kolid buih bukanlah ukuran gelembung gas seperti pada
sistem kolid umumnya, tetapi adalah ketebalan film (lapisan tipis) pada daerah
antar-fase dimana zat pembuih teradsorbsi, ukuran kolid berkisar 0,0000010 cm.
Buih cair memiliki struktur yang tidak beraturan. Strukturnya ditentukan oleh
kandungan zat cairnya, bukan oleh komposisi kimia atau ukuran buih rata-rata.
Jika fraksi zat cair lebih dari 5%, gelembung gas akan mempunyai bentuk hamper
seperti bola. Jika kurang dari 5%, maka bentuk gelembung gas adalah polihedral.
Beberapa sifat buih cair yang penting:
Struktur buih cair dapat berubah dengan waktu, karena:
- pemisahan medium pendispersi (zat cair) atau drainase,
karena kerapatan gas dan zat cair yang jauh berbeda,
- terjadinya difusi gelembung gas yang kecil ke gelembung gas
yang besar akibat tegangan permukaan, sehingga ukuran gelembung gas menjadi
lebih besar,
- rusaknya film antara dua gelembung gas.
Struktur buih cair dapat berubah jika diberi gaya dari luar.
Bila gaya yang diberikan kecil, maka struktur buih akan kembali ke bentuk awal
setelah gaya tersebut ditiadakan. Jika gaya yang diberikan cukup besar, maka
akan terjadi deformasi.
Contoh buih cair:
- Buih hasil kocokan putih telur
Karen audara di sekitar putih telur akan teraduk dan
menggunakan zat pembuih, yaitu protein dan glikoprotein yang berasal dari putih
telur itu sendiri untukmembentuk buih yang relative stabil. Sehingga putih
telur yang dikocok akan mengembang.
- Buih hasil akibat pemadam kebakaran
Alat pemadam kebakaran mengandung campuran air, natrium
bikarbonat, aluminium sulfat, serta suatu zat pembuih. Karbondioksida yang
dilepas akan membentuk buih dengan bamtuam zat pembuih tersebut.
Buih Padat
Buih padat adalah sistem kolid dengan fase terdisperasi gas
dan denganmedium pendisperasi zat padat. Kestabilan buih ini dapat diperoleh
dari zat pembuih juga (surfaktan). Contoh-contoh buih padatyang mungkin kita
ketahui:
- Roti
Proses peragian yang melepas gas karbondioksida
terlibat dalam proses pembuatan roti. Zat pembuih protein gluten dari tepung
kemudian akan membentuk lapisan tipis mengelilimgi gelembung-gelembung
karbondioksida untuk membentuk buih padat.
- Batu apung
Dari proses solidifikasi gelas vulkanik, maka
terbentuklah batu apung.
- Styrofoam
Styrofoam memiliki fase terdisperasi karbondioksida dan
udara.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar