Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 10 Oktober 2015

pengertian mitos, legenda, aksioma, postulat, dalil, teori dan hukum. serta karakteristik ilmu, rangka metode ilmiah dan ciri-ciri ilmuwan



Mitos
            Secara sederhana, definisi mitos adalah suatu informasi yang sebenarnya salah tetapi dianggap benar karena telah beredar dari generasi ke generasi. Begitu luasnya suatu mitos beredar di masyarakat sehingga masyarat tidak menyadari bahwa informasi yang diterimanya itu tidak benar. Karena begitu kuatnya keyakinan masyarakat terhadap suatu mitos tentang sesuatu hal, sehingga mempengaruhi perilaku masyarakat. Mitos atau mite (myth) adalah cerita prosa rakyat yang di tokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia  lain (kahyangan) pada masa lampau dan dianggap benar-benar  terjadi oleh yang punya cerita atau penganutnya. Mitos juga disebut Mitologi, yang kadang diartikan Mitologi adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan bertalian dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, adat istiadat, dan konsep dongeng suci. Mitos juga merujuk kepada satu cerita dalam sebuah kebudayaan yang dianggap mempunyai kebenaran mengenai suatu peristiwa yang pernah terjadi pada masa dahulu. Jadi, Mitos adalah cerita tentang asal-usul alam semesta, manusia, atau bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung arti yang dalam. Mitos juga mengisahkan  petualangan para dewa, kisah percintaan mereka, kisah perang mereka dan sebagainya. Mengapa Mitos di Percaya? Sebab masyarakat beranggapan mitos sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat tradisional yang masih sangat kental budaya kedaerahannya. Mereka kebanyakan mengabaikan logika dan lebih mempercayai hal-hal yang sudah turun temurun dari nenek moyang. Pada dasarnya, mitos orang zaman dahulu memiliki tujuan yang baik untuk kelangsungan hidup keturunannya Ada masyarakat yang mempercayai mitos tersebut, ada juga masyarakat yang tidak mempercayainya. Jika mitos tersebut terbukti kebenarannya, maka masyarakat yang mempercayainya merasa untung. Tetapi jika mitos tersebut belum terbukti kebenarannya, maka masyarakat bisa dirugikan. Mitos dipercaya sebagai ajaran nenek moyang tentang apa yang tidak boleh dilakukan agar tidak tertimpa daerah.
BEBERAPA CONTOH-CONTOH MITOS:
  1. Tertimpa cicak tandanya sial . Sial di sini maksudnya dari tertimpa cicak itu sendiri. Siapa yang tidak sial kalau sedang enak – enak duduk tiba – tiba tertimpa cicak.
  2. Wanita tidak boleh duduk di depan pintu pamali . Zaman dahulu wanita masih menggunakan rok, belum ada yang memakai celana. Jadi, kalau ada wanita yang duduk di depan pintu pasti akan terlihat…ya gitu deh. Pasti banyak mengundang hawa nafsu.
  3. Jangan bersiul pada malam hari  karena mengundang setan. Maksudnya adalah agar tidak mengganggu orang – orang yang sedang tidur.
  4. Memakai payung di dalam rumah berarti sial. Ya sial kalau lagi ada banyak orang di dalam rumah dan kita memakai payung. Mungkin orang – orang di sekitar Anda akan merasa terganggu atau tercolok matanya.
Demikian beberapa contoh mitos. Para nenek moyang menganggapnya sebagai pamali. Sebagai orang yang beragama, khususnya Islam tidak boleh mempercayai ramalan atau semacamnya karena hidup dan mati berada di tangan Tuhan, bukan nenek moyang.
LEGENDA
          Sebuah kisah sejarah tradisional (atau kumpulan cerita terkait) populer dianggap benar tetapi biasanya berisi campuran fakta dan fiksi. ebuah legenda adalah cerita yang diceritakan seolah-olah itu adalah peristiwa sejarah, bukan sebagai penjelasan untuk sesuatu atau narasi simbolik. Legenda mungkin atau mungkin tidak versi dijabarkan dari peristiwa sejarah. Legenda yang dalam bahasa Latin disebut legere adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh empunya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karenanya, legenda sering kali dianggap sebagai sejarah kolektif (folk history). Meski demikian, karena tidak tertulis, maka kisah-kisah tersebut telah mengalami distorsi, sehingga sering kali jauh berbeda dengan aslinya. Oleh sebab itu, jika legenda dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi suatu sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari hal-hal yang mengandung sifat-sifat cerita rakyat (folklore). Legenda ataupun cerita rakyat, terkait dekat sekali dengan Mitologi. Namun, pada cerita rakyat, waktu dan tempat tidak spesifik dan ceritanya tidak dianggap sebagai sesuatu yang suci dan dipercaya kebenarannya layaknya Mitologi. Sedangkan legenda sendiri, meskipun kejadiannya dianggap benar, pelaku-pelaku kisahnya adalah manusia, bukan Dewa dan monster seperti pada Mitologi.
BEBERAPA CONTOH-CONTOH LEGENDA:
  1. Sangkuriang
  2. Lutung Kasarung
  3. Legenda Candi PrambanaN
  4. Buaya Putih dari Maluku
  5. Legenda Kanjeng Ratu Kidul
  6. Danau Toba
7.    AKSIOMA
8.    Aksioma adalah pendapat yang dijadikan pedoman dasar dan merupakan Dalil Pemula,
9.    sehingga kebenarannya tidak perlu dibuktikan lagi.
10. Aksioma yaitu suatu pernyataan yang diterima sebagai kebenaran dan bersifat umum,
11. tanpa memerlukan pembuktian.
12. Contoh aksioma :
13. 1.    Melalui dua titik sembarang hanya dapat dibuat sebuah garis lurus.
14. 2.   Jika sebuah garis dan sebuah bidang mempunyai dua titik persekutuan, maka garis itu seluruhnya terletak pada bidang.
15. 3.   Melalui tiga buah titik sembarang hanya dapat dibuat sebuah bidang.
16. 4.   Melalui sebuah titik yang berada di luar sebuah garis tertentu, hanya dapat dibuat sebuah garis yang sejajar dengan garis tertentu tersebut.        
17. POSTULAT
18. •        Postulat adalah pernyataan yang diterima tanpa Ada yang menyamakan postulat dengan aksioma sehingga mereka dapat dipertukarkan.
19. •        Ada yang berpendapat bahwa ada harapan bahwa pada suatu saat postulat dapat dibuktikan.
20. Contoh Postulatpembuktian dan dapat digunakan sebagai premis pada deduksi.
21. 1.    Postulat Geometri
22.             Dengan mistar dan jangka :
23. •          Dapat dilukis garis lurus dari suatu titik ke titik lain.
24. •          Dapat dihasilkan garis lurus terhingga dengan sebarang panjang
25. •          Dapat dilukis lingkaran dengan sebarang titik sebagai pusat dan jari-jari sebarang panjang
26. 2.   Postulat Ekivalensi Massa
27. a.   Hukum lembam Newton menggunakan massa lembam, m
G  =  ma
28. b.   Hulum gravitasi Newton menggunakan massa gravitasi, m dan  M

29. c.    Postulat: massa lembam m  = massa gravitasi  m (dapat diterangkan oleh Einstein)
30. 3.   Postulat Robert Koch (berupa etiologi spesifik).
31. a.   mikroba tertentu menyebabkan penyakit tertentu (setelah Pasteur menemukan mikroba).
32. b.   dengan kata lain: setiap penyakit disebabkan oleh satu sebab mikroba tertentu.
33.  
34. DALIL
35. Dalil (theorem) biasanya digunakan pada matematika, hukum pada ilmu alam.
36. Hubungan tetap di antara besaran
Contoh:
37. TEOREMA
38. Teorema adalah pernyataan hubungan definisi dengan definisi lainnya. Contoh: Teorema Pythagoras menyatakan hubungan ketiga sisi segitika siku-siku, Teorema Langrange menyatakan hubungan grup hingga dengan subgrup-nya.
39. Bagaimana memahami suatu teorema. Belajar begaimana membuat teorema baru dari asumsi-asumsi yang telah diketahui. Belajar melihat hubungan definisi dengan definisi lainnya sehingga bisa ditarik suatu teorema.
40.  
41.  


Hukum adalah peraturan yang berupa norma dan sanksi yang dibuat dengan tujuan untuk mengatur tingkah laku manusia, menjaga ketertiban, keadilan, mencegah terjadinya kekacauan.
Hukum memiliki tugas untuk menjamin bahwa adanya kepastian hukum dalam masyarakat. Oleh sebab itu setiap masyarat berhak untuk memperoleh pembelaan didepan hukum. Hukum dapat diartikan sebagai sebuah peraturan atau ketetapan/ ketentuan yang tertulis ataupun yang tidak tertulis untuk mengatur kehidupan masyarakat dan menyediakan sangsi untuk orang yang melanggar hukum.
Hukum dapat dikelompokkan sebagai berikut:
- Hukum berdasarkan Bentuknya: Hukum tertulis dan Hukum tidak tertulis.
- Hukum berdasarkan Wilayah berlakunya: Hukum local, Hukum nasional dan Hukum Internasional.
- Hukum berdasarkan Fungsinya: Hukum Materil dan Hukum Formal.
- Hukum berdasarkan Waktunya: Ius Constitutum, Ius Constituendum, Lex naturalis/ Hukum Alam.
- Hukum Berdasarkan Isinya: Hukum Publik, Hukum Antar waktu dan Hukum Private. Hukum Publik sendiri dibagi menjadi Hukum Tata Negara,
Hukum Administrasi Negara, Hukum Pidana dan Hukum Acara. Sedangkan Hukum Privat dibagi menjadi Hukum Pribadi, Hukum Keluarga, Hukum Kekayaan, dan Hukum Waris.
- Hukum  Berdasarkan Pribadi: Hukum satu golongan, Hukum semua golongan dan Hukum Antar golongan.
- Hukum Berdasarkan Wujudnya: Hukum Obyektif dan Hukum Subyektif.
- Hukum Berdasarkan Sifatnya: Hukum yang memaksa dan Hukum yang mengatur.

Berikut ini adalah Karakteristik Ilmu yang perlu diketahui oleh Anda :

1. Berdiri secara satu kesatuan
2. Tersusun secara sistematis
3. Ada dasar pembenarannya (ada penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan disertai sebab-sebabnya yang meliputi fakta dan data)
4. Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset
5. Communicable, ilmu dapat di transfer kepada orang lain sehingga dapat di menerti dan dipahami maknannya
6. Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu sehingga dapat berlaku dimana saja dan kapan saja diseluruh alam semesta ini. Berkembang, ilmu sebaiknya dapat mendorong pengetahuan-pengetahuan dan penemuan-penemuan baru, sehingga manusia mampu menciptakan pemikiran-pemikiran yang lebih berkembang dari sebelumnya


Metode Ilmiah Dan Langkah-langkahnya

Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:
  1. Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran)
  2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran)
  3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
  4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)
Karakteristik Metode Ilmiah
Menurut sumber ada beberapa karakteristik metode ilmiah:
Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah danmenentukan metode untuk pemecahan masalah.
Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia
Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.
Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan.
Langkah – Langkah Metode Ilmiah
  • Menyusun Rumusan Masalah
  • Menyusun Kerangka Teori
  • Merumuskan Teori
  • Melakukan Eksperimen
  • Mengolah dan Menganalisis Data
  • Menarik Kesimpulan
  • Mempublikasikan Hasil
Menyusun Rumusan Masalah
Hal-hal yang harus diperhatikan:
  • Masalah menyatakan adanya keterkaitan antara beberapa variabel atau lebih.
  • Masalah tersebut merupakan masalah yang dapat diuji dan dapat dipecahkan.
  • Masalah disusun dalam bentuk pertanyaan yang singkat, padat dan jelas.
Menyusun Kerangka Teori
Mengumpulkan keterangan-keterangan dan informasi, baik secara teori maupun data-data fakta di lapangan.
Dari keterangan-keterangan dan informasi tersebut diperoleh penjelasan sementara terhadap permasalahan yang terjadi.
Penarikan Hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu permasalahan. Penyusunan hipotesis dapat berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dalam penelitian, setiap orang berhak menyusun Hipotesis.
 Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara menganalisis data. Data dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya melalui percobaan atau eksperimen. Percobaan yang dilakukan akan menghasilkan data berupa angka untuk memudahkan dalam penarikan kesimpulan. Pengujian hipotesis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat bukti-bukti yang mendukung hipotesis.

  1. B. Sikap Ilmiah Seorang Ilmuwan
Dalam melakukan kegiatannya, baik dalam penelitian maupun dalam pengembangan konsep, hukum dan teori dalam disiplin ilmunya, seorang ilmuwan dituntut untuk memiliki sikap-sikap tertentu. Ia harus memiliki sikap-sikap positif sebagai pencerminan dari kapasitasnya sebagai manusia terpelajar yang selalu mencari kebenaran dari sumber-sumber asalnya. Beberapa sikap yang diuraikan berikut ini, tidak hanya spesifik bagi ilmuwan karena sipatnya yang memasuki daerah etika dan moral, misalnya kejujuran dan sikap menghargai pendapat orang lain. Sikap-sikap tersebut akan dibahas secara singkat berikut ini.
  1. Berpikir kritis
Berpikir kritis erat kaitannya dengan logika dan keterampilan menyelesaikan masalah. Logika telah menjadi bagian terpenting dari berpikir kritis. Dengan disiplin logika,  seorang ilmuawan akan bekerja menyelesaikan masalah dan mengungkap kebenaran dengan logis dan sistematis mengikuti alur pemikiran kausalitas yang runut. Keterampilan menyelasaikan masalah yang dimilikinya sebagai sebuah pengalaman berharga akan mempertajam dan menuntun pikiran dan dirinya dalam menyelasaikan permasalahan atau mengungkap suatu kebenaran dengan pola yang efektif dan efisien. Mengingat tugasnya sebagai pengmbang ilmu, maka berpikir kritis sangat perlu dimiliki oleh seorang ilmuwan.
  1. Inkuairi
Seorang ilmuwan senantiasa mempertanyakan apa, mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, atau apa, mengapa dan bagaimana suatu masalah itu muncul. Dengan pertanyaan-pertanyaan itu dia tak hanya diam dan merenung, namun juga mencari informasi melalui berbagai sumber, dan berusaha memecahkan masalah yang ia temukan. Sikap ini dinamakan inkuairi yang merupakan sikap naluriah yang dibawa anak sejak lahir. Sikap inkuairi ini akan mendorong ilmuawan gemar meneliti, sehingga ia dapat menemukan (discover) sesuatu dan karena keterampilan motorik serta kreatifitasnya dia juga dapat menemukan (invent) suatu karya. Apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya, maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa; kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
  1. Tekun dan teliti
Sikap tekun seorang ilmuwan menyebabkan ia tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan, tidak akan berhenti melakukan kegiatan–kegiatan apabila belum selesai terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya. Ia berusaha bekerja dengan  teliti. Ketekunan dan ketelitian merupaka senjata ampuh bagi ilmuwan karena tanpa ketekunan dan ketelitian, experiment yang membosankan ditinjau dari segi waktu tidak akan memberikan hasil yang diinginkan. Sikap tekun dan teliti  menuntut ilmuwan agar tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, dapat berfikir secara sistematik, sehingga tidak menghasilkan kesimpulan yang kontroversial, khususnya berkaitan dengan pembuatan pernyataan atau publikasi ilmiahnya. Karena pola kerja yang tidak tergesa-gesa dan cermat melihat kekurangan-kekurangan untuk terus diperbaiki serta tetap mencari informasi atau sumber-sumber yang lebih valid untuk melengkapi dan menyempurnakan argument, maka hasilnya sudah pasti adalah sebuah ilmu baru yang akan memberikan manfaat sangat besar bagi kehidupan masyarakat banyak seperti yang telah diperlihatkan oleh Lavoisier sebagai seorang Pendiri Ilmu Kimia Modern.
  1. Skeptik
Istilah skeptik ini berarti tidak mudah percaya, selalu meraguka sebelum sesuatu dapat dibuktikan. Atas dasar inilah, sikap skeptik akan mendorong seorang ilmuwan untuk meneliti kembali pekerjaan ilmuwan sebelumnya, misalnya dengan memperbanyak variabel atau menelusuri prosedur penelitian yang telah dilakukan orang lain. Dengan cara ini terjadilah kesinambungan penelitian terhadap hal tertentu dan dengan memperbanyak variabel terjadilah pengembangan ilmu.
Sikap skeptik juga menunjukan keluasan wawasan yang dimiliki seorang ilmuwan. Dengan wawasan lebih yang dimilikinya, seorang ilmuwan dapat melihat sesuatu dari berbagai perspektif, sehingga dapat lebih jeli melihat kekurangan atau kelemahan sebuah obyek (ilmu) untuk kemudian di diperbaiki dan disempurnakan.OLeh karena itu selain sebagai pencari kebenaran (ilmu), seorang ilmuwan juga, dengan sikap skeptisnya ini, ia juga adalah seorang pengkritik masalah sekaligus pemberi solusi dari masalah tersebut.
  1. Jujur dan bertanggung jawab terhadap masyarakat
Dalam melakukan penelitian, seorang ilmuwan tidak boleh memanipulasi data. Artinya apapun hasil yang diperoleh harus dikomunikasikan di depan sesame ilmuwan dengan penuh kejujuran. Seorang ilmuwan akan sangat tercela jika penelitian yang dilakukannya hanyalah sebuah jiplakan karya orang lain yang dikemas dengan penampilan lain. Publikasi yang dilakukannya, pada ahirnya akan diketahui khalayak sebagai suatu kebohongan besar. Kejadian seperti ini telah sempat ditulis dalam sebuah situs (http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/menyoal-kejujuran-ilmuwan/):… “Dunia Fisika telah terlebih dahulu diguncangkan oleh kasus serupa yang lebih spektakuler skalanya. Oktober tahun lalu, Science, sebuah majalah ilmiah terkemuka lain, mencabut sekaligus 8 makalah dengan Hendrik Schon sebagai penulis utamanya. Schon adalah seorang superstar sains asal Jerman dan bekerja pada sebuah lembaga riset yang sangat disegani Lucent Technologies’ Bell Labs. Dia telah menghasilkan lebih dari 80 makalah di jurnal-jurnal terkemuka dan mendapat berbagai penghargaan ilmiah. Dia juga telah melakukan pekerjaan penting dalam bidang ilmu bahan dan elektronika, khususnya dalam masalah semikonduktor molekul, laser, dan superkonduktor temperatur tinggi. Hasil-hasil risetnya membuat ia ditunjuk menjadi Direktur di Max Plank Institute (sebelum akhirnya dibatalkan karena kecurangannya) dan dijadikan kandidat penerima hadiah Nobel”.
Namun demikian untuk menyampaikannya kepada masyarakat perlu ada penyaringan agar tidak terjadi keresahan atau salah tafsir yang dapat merugikan masyarakat. Dalam hal ini peneliti perlu juga mempelajari tingkat pemahaman dan kultur yang ada dalam masyarakat, sehingga hasil penelitian yang dilakukannya tidak memunculkan keresahan atau mungkin kemarahan khalayak yang akan menjadi bomerang bagi peneliti sendiri.
  1. Terbuka
Seorang ilmuwan harus dapat menerima saran dan kritik dari orang lain. Informasi tentang hasil penelitian biasanya memperoleh tanggapan dan saran atau kritik dari sesame ilmuwan. Kritik, khususnya yang membangun harus dapat diterima dengan lapang dada.Karena dengan demikian seorang peneliti dapat mengintrospeksi dan memperbaiki kesalahan atau kekurangtelitian yang telah diperbuat. Dengan demikian disamping menyadari tentang kekurangannya itu, ia juga menghargai pendapat orang lain.
  1. Toleran
Seorang ilmuwan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bersedia mengakui bahwa orang lain mungkin mempunyai pengetahuan yang lebih luas, atau mungkin saja pendapatnya bisa salah. Dalam belajar menambah ilmu pengetahuan ia bersedia belajar dari orang lain, membandingkan pendapatnya dengan pendapat orang lain, serta tidak memaksakan suatu pendapat kepada orang lain. Dalam pikiran seorang ilmuwan terdapat ruang “toleran”; sebuah ruang untuk menempatkan kebenaran ilmiah sebagai sesuatu yang lebih bebas untuk diinterpretasikan dalam batas-batas tertentu. Batas tegas dalam jiwa seorang ilmuwan hanya ada antara  kebenaran dengan ketakbenaran. Seorang ilmuwan akan menyatakan dengan mantap” Pendapatku memang benar, tapi mungkin mengandung kesalahan. Dan pendapat orang lain memang salah (kurang tepat), tapi mungkin mengandung kebenaran