Mitos
Secara sederhana, definisi mitos adalah suatu informasi
yang sebenarnya salah tetapi dianggap benar karena telah beredar dari generasi
ke generasi. Begitu luasnya suatu mitos beredar di masyarakat sehingga masyarat
tidak menyadari bahwa informasi yang diterimanya itu tidak benar. Karena begitu
kuatnya keyakinan masyarakat terhadap suatu mitos tentang sesuatu hal, sehingga
mempengaruhi perilaku masyarakat. Mitos atau mite (myth) adalah cerita prosa
rakyat yang di tokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di
dunia lain (kahyangan) pada masa lampau dan dianggap benar-benar
terjadi oleh yang punya cerita atau penganutnya. Mitos juga disebut Mitologi,
yang kadang diartikan Mitologi adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar
terjadi dan bertalian dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, adat
istiadat, dan konsep dongeng suci. Mitos juga merujuk kepada satu cerita dalam
sebuah kebudayaan yang
dianggap mempunyai kebenaran mengenai suatu peristiwa yang pernah terjadi pada
masa dahulu. Jadi, Mitos adalah cerita tentang asal-usul alam semesta, manusia,
atau bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung arti yang
dalam. Mitos juga mengisahkan petualangan para dewa, kisah
percintaan mereka, kisah perang mereka dan sebagainya. Mengapa Mitos di Percaya?
Sebab masyarakat beranggapan mitos sangat berpengaruh pada kehidupan
masyarakat, khususnya masyarakat tradisional yang masih sangat kental budaya
kedaerahannya. Mereka kebanyakan mengabaikan logika dan lebih mempercayai
hal-hal yang sudah turun temurun dari nenek moyang. Pada dasarnya, mitos orang
zaman dahulu memiliki tujuan yang baik untuk kelangsungan hidup keturunannya
Ada masyarakat yang mempercayai mitos tersebut, ada juga masyarakat yang tidak
mempercayainya. Jika mitos tersebut terbukti kebenarannya, maka masyarakat yang
mempercayainya merasa untung. Tetapi jika mitos tersebut belum terbukti
kebenarannya, maka masyarakat bisa dirugikan. Mitos dipercaya sebagai ajaran
nenek moyang tentang apa yang tidak boleh dilakukan agar tidak tertimpa daerah.
BEBERAPA CONTOH-CONTOH MITOS:
- Tertimpa cicak tandanya sial . Sial di sini maksudnya dari tertimpa cicak itu sendiri. Siapa yang tidak sial kalau sedang enak – enak duduk tiba – tiba tertimpa cicak.
- Wanita tidak boleh duduk di depan pintu pamali . Zaman dahulu wanita masih menggunakan rok, belum ada yang memakai celana. Jadi, kalau ada wanita yang duduk di depan pintu pasti akan terlihat…ya gitu deh. Pasti banyak mengundang hawa nafsu.
- Jangan bersiul pada malam hari karena mengundang setan. Maksudnya adalah agar tidak mengganggu orang – orang yang sedang tidur.
- Memakai payung di dalam rumah berarti sial. Ya sial kalau lagi ada banyak orang di dalam rumah dan kita memakai payung. Mungkin orang – orang di sekitar Anda akan merasa terganggu atau tercolok matanya.
Demikian beberapa contoh mitos.
Para nenek moyang menganggapnya sebagai pamali. Sebagai orang yang beragama,
khususnya Islam tidak boleh mempercayai ramalan atau semacamnya karena hidup
dan mati berada di tangan Tuhan, bukan nenek moyang.
LEGENDA
Sebuah kisah sejarah tradisional (atau kumpulan cerita
terkait) populer dianggap benar tetapi biasanya berisi campuran fakta dan
fiksi. ebuah legenda adalah cerita yang diceritakan seolah-olah itu adalah
peristiwa sejarah, bukan sebagai penjelasan untuk sesuatu atau narasi simbolik.
Legenda mungkin atau mungkin tidak versi dijabarkan dari peristiwa sejarah.
Legenda yang dalam bahasa Latin disebut legere adalah cerita prosa rakyat yang
dianggap oleh empunya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh
karenanya, legenda sering kali dianggap sebagai sejarah kolektif (folk
history). Meski demikian, karena tidak tertulis, maka kisah-kisah tersebut
telah mengalami distorsi, sehingga sering kali jauh berbeda dengan aslinya.
Oleh sebab itu, jika legenda dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi
suatu sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya
dari hal-hal yang mengandung sifat-sifat cerita rakyat (folklore). Legenda
ataupun cerita rakyat, terkait dekat sekali dengan Mitologi. Namun, pada cerita rakyat, waktu
dan tempat tidak spesifik dan ceritanya tidak dianggap sebagai sesuatu yang
suci dan dipercaya kebenarannya layaknya Mitologi. Sedangkan legenda sendiri,
meskipun kejadiannya dianggap benar, pelaku-pelaku kisahnya adalah manusia,
bukan Dewa dan monster seperti pada Mitologi.
BEBERAPA CONTOH-CONTOH LEGENDA:
- Sangkuriang
- Lutung Kasarung
- Legenda Candi PrambanaN
- Buaya Putih dari Maluku
- Legenda Kanjeng Ratu Kidul
- Danau Toba
7.
AKSIOMA
8.
Aksioma adalah
pendapat yang dijadikan pedoman dasar dan merupakan Dalil Pemula,
9.
sehingga
kebenarannya tidak perlu dibuktikan lagi.
10.
Aksioma yaitu suatu
pernyataan yang diterima sebagai kebenaran dan bersifat umum,
11.
tanpa memerlukan
pembuktian.
12.
Contoh aksioma :
13.
1. Melalui dua titik
sembarang hanya dapat dibuat sebuah garis lurus.
14.
2. Jika sebuah garis
dan sebuah bidang mempunyai dua titik persekutuan, maka garis itu seluruhnya
terletak pada bidang.
15.
3. Melalui tiga buah
titik sembarang hanya dapat dibuat sebuah bidang.
16.
4. Melalui sebuah titik
yang berada di luar sebuah garis tertentu, hanya dapat dibuat sebuah garis yang
sejajar dengan garis tertentu tersebut.
17.
POSTULAT
18.
•
Postulat adalah pernyataan yang diterima tanpa Ada yang menyamakan postulat
dengan aksioma sehingga mereka dapat dipertukarkan.
19.
•
Ada yang berpendapat bahwa ada harapan bahwa pada suatu saat postulat dapat
dibuktikan.
20.
Contoh
Postulatpembuktian dan dapat digunakan sebagai premis pada deduksi.
21.
1. Postulat Geometri
22.
Dengan mistar dan jangka :
23.
•
Dapat dilukis garis lurus dari suatu titik ke titik lain.
24.
•
Dapat dihasilkan garis lurus terhingga dengan sebarang panjang
25.
•
Dapat dilukis lingkaran dengan sebarang titik sebagai pusat dan jari-jari
sebarang panjang
26.
2. Postulat Ekivalensi
Massa
27.
a. Hukum lembam Newton
menggunakan massa lembam, m
G = ma
G = ma
28.
b. Hulum gravitasi
Newton menggunakan massa gravitasi, m dan
M
29.
c. Postulat: massa
lembam m = massa gravitasi m (dapat diterangkan oleh Einstein)
30.
3. Postulat Robert Koch
(berupa etiologi spesifik).
31.
a. mikroba tertentu
menyebabkan penyakit tertentu (setelah Pasteur menemukan mikroba).
32.
b. dengan kata lain:
setiap penyakit disebabkan oleh satu sebab mikroba tertentu.
33.
34.
DALIL
35.
Dalil (theorem)
biasanya digunakan pada matematika, hukum pada ilmu alam.
36.
Hubungan tetap di
antara besaran
Contoh:
Contoh:
37.
TEOREMA
38.
Teorema adalah
pernyataan hubungan definisi dengan definisi lainnya. Contoh: Teorema
Pythagoras menyatakan hubungan ketiga sisi segitika siku-siku, Teorema
Langrange menyatakan hubungan grup hingga dengan subgrup-nya.
39.
Bagaimana memahami
suatu teorema. Belajar begaimana membuat teorema baru dari asumsi-asumsi yang
telah diketahui. Belajar melihat hubungan definisi dengan definisi lainnya
sehingga bisa ditarik suatu teorema.
40.
41.
Hukum adalah peraturan yang berupa norma dan sanksi
yang dibuat dengan tujuan untuk mengatur tingkah laku manusia, menjaga
ketertiban, keadilan, mencegah terjadinya kekacauan.
Hukum memiliki tugas untuk menjamin bahwa adanya kepastian hukum dalam masyarakat. Oleh sebab itu setiap masyarat berhak untuk memperoleh pembelaan didepan hukum. Hukum dapat diartikan sebagai sebuah peraturan atau ketetapan/ ketentuan yang tertulis ataupun yang tidak tertulis untuk mengatur kehidupan masyarakat dan menyediakan sangsi untuk orang yang melanggar hukum.
Hukum dapat dikelompokkan sebagai berikut:
- Hukum berdasarkan Bentuknya: Hukum tertulis dan Hukum tidak tertulis.
- Hukum berdasarkan Wilayah berlakunya: Hukum local, Hukum nasional dan Hukum Internasional.
- Hukum berdasarkan Fungsinya: Hukum Materil dan Hukum Formal.
- Hukum berdasarkan Waktunya: Ius Constitutum, Ius Constituendum, Lex naturalis/ Hukum Alam.
- Hukum Berdasarkan Isinya: Hukum Publik, Hukum Antar waktu dan Hukum Private. Hukum Publik sendiri dibagi menjadi Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara, Hukum Pidana dan Hukum Acara. Sedangkan Hukum Privat dibagi menjadi Hukum Pribadi, Hukum Keluarga, Hukum Kekayaan, dan Hukum Waris.
- Hukum Berdasarkan Pribadi: Hukum satu golongan, Hukum semua golongan dan Hukum Antar golongan.
- Hukum Berdasarkan Wujudnya: Hukum Obyektif dan Hukum Subyektif.
- Hukum Berdasarkan Sifatnya: Hukum yang memaksa dan Hukum yang mengatur.
Hukum memiliki tugas untuk menjamin bahwa adanya kepastian hukum dalam masyarakat. Oleh sebab itu setiap masyarat berhak untuk memperoleh pembelaan didepan hukum. Hukum dapat diartikan sebagai sebuah peraturan atau ketetapan/ ketentuan yang tertulis ataupun yang tidak tertulis untuk mengatur kehidupan masyarakat dan menyediakan sangsi untuk orang yang melanggar hukum.
Hukum dapat dikelompokkan sebagai berikut:
- Hukum berdasarkan Bentuknya: Hukum tertulis dan Hukum tidak tertulis.
- Hukum berdasarkan Wilayah berlakunya: Hukum local, Hukum nasional dan Hukum Internasional.
- Hukum berdasarkan Fungsinya: Hukum Materil dan Hukum Formal.
- Hukum berdasarkan Waktunya: Ius Constitutum, Ius Constituendum, Lex naturalis/ Hukum Alam.
- Hukum Berdasarkan Isinya: Hukum Publik, Hukum Antar waktu dan Hukum Private. Hukum Publik sendiri dibagi menjadi Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara, Hukum Pidana dan Hukum Acara. Sedangkan Hukum Privat dibagi menjadi Hukum Pribadi, Hukum Keluarga, Hukum Kekayaan, dan Hukum Waris.
- Hukum Berdasarkan Pribadi: Hukum satu golongan, Hukum semua golongan dan Hukum Antar golongan.
- Hukum Berdasarkan Wujudnya: Hukum Obyektif dan Hukum Subyektif.
- Hukum Berdasarkan Sifatnya: Hukum yang memaksa dan Hukum yang mengatur.
Berikut ini adalah
Karakteristik Ilmu yang perlu diketahui oleh Anda :
1. Berdiri secara satu kesatuan
2. Tersusun secara sistematis
3. Ada dasar pembenarannya (ada penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan disertai sebab-sebabnya yang meliputi fakta dan data)
4. Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset
5. Communicable, ilmu dapat di transfer kepada orang lain sehingga dapat di menerti dan dipahami maknannya
6. Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu sehingga dapat berlaku dimana saja dan kapan saja diseluruh alam semesta ini. Berkembang, ilmu sebaiknya dapat mendorong pengetahuan-pengetahuan dan penemuan-penemuan baru, sehingga manusia mampu menciptakan pemikiran-pemikiran yang lebih berkembang dari sebelumnya
1. Berdiri secara satu kesatuan
2. Tersusun secara sistematis
3. Ada dasar pembenarannya (ada penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan disertai sebab-sebabnya yang meliputi fakta dan data)
4. Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset
5. Communicable, ilmu dapat di transfer kepada orang lain sehingga dapat di menerti dan dipahami maknannya
6. Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu sehingga dapat berlaku dimana saja dan kapan saja diseluruh alam semesta ini. Berkembang, ilmu sebaiknya dapat mendorong pengetahuan-pengetahuan dan penemuan-penemuan baru, sehingga manusia mampu menciptakan pemikiran-pemikiran yang lebih berkembang dari sebelumnya
Metode Ilmiah Dan Langkah-langkahnya
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti
fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan
fenomena alam. Prediksi yang
dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis
tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
Unsur utama metode
ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:
- Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran)
- Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran)
- Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
- Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)
Karakteristik Metode Ilmiah
Menurut sumber ada
beberapa karakteristik metode ilmiah:
Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah danmenentukan metode untuk pemecahan masalah.
Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia
Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.
Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan.
Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah danmenentukan metode untuk pemecahan masalah.
Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia
Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.
Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan.
Langkah – Langkah Metode Ilmiah
- Menyusun Rumusan Masalah
- Menyusun Kerangka Teori
- Merumuskan Teori
- Melakukan Eksperimen
- Mengolah dan Menganalisis Data
- Menarik Kesimpulan
- Mempublikasikan Hasil
Menyusun Rumusan Masalah
Hal-hal yang harus diperhatikan:
Hal-hal yang harus diperhatikan:
- Masalah menyatakan adanya keterkaitan antara beberapa variabel atau lebih.
- Masalah tersebut merupakan masalah yang dapat diuji dan dapat dipecahkan.
- Masalah disusun dalam bentuk pertanyaan yang singkat, padat dan jelas.
Menyusun Kerangka Teori
Mengumpulkan
keterangan-keterangan dan informasi, baik secara teori maupun data-data fakta
di lapangan.
Dari keterangan-keterangan dan informasi tersebut diperoleh penjelasan sementara terhadap permasalahan yang terjadi.
Dari keterangan-keterangan dan informasi tersebut diperoleh penjelasan sementara terhadap permasalahan yang terjadi.
Penarikan Hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu permasalahan. Penyusunan hipotesis dapat berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dalam penelitian, setiap orang berhak menyusun Hipotesis.
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu permasalahan. Penyusunan hipotesis dapat berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dalam penelitian, setiap orang berhak menyusun Hipotesis.
Pengujian
Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara menganalisis data. Data dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya melalui percobaan atau eksperimen. Percobaan yang dilakukan akan menghasilkan data berupa angka untuk memudahkan dalam penarikan kesimpulan. Pengujian hipotesis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat bukti-bukti yang mendukung hipotesis.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara menganalisis data. Data dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya melalui percobaan atau eksperimen. Percobaan yang dilakukan akan menghasilkan data berupa angka untuk memudahkan dalam penarikan kesimpulan. Pengujian hipotesis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat bukti-bukti yang mendukung hipotesis.
- B. Sikap Ilmiah Seorang Ilmuwan
Dalam melakukan kegiatannya, baik dalam penelitian maupun dalam
pengembangan konsep, hukum dan teori dalam disiplin ilmunya, seorang ilmuwan
dituntut untuk memiliki sikap-sikap tertentu. Ia harus memiliki sikap-sikap
positif sebagai pencerminan dari kapasitasnya sebagai manusia terpelajar yang
selalu mencari kebenaran dari sumber-sumber asalnya. Beberapa sikap yang
diuraikan berikut ini, tidak hanya spesifik bagi ilmuwan karena sipatnya yang
memasuki daerah etika dan moral, misalnya kejujuran dan sikap menghargai
pendapat orang lain. Sikap-sikap tersebut akan dibahas secara singkat berikut
ini.
- Berpikir kritis
Berpikir kritis erat kaitannya dengan logika dan keterampilan
menyelesaikan masalah. Logika telah menjadi bagian terpenting dari berpikir
kritis. Dengan disiplin logika, seorang ilmuawan akan bekerja
menyelesaikan masalah dan mengungkap kebenaran dengan logis dan sistematis
mengikuti alur pemikiran kausalitas yang runut. Keterampilan menyelasaikan
masalah yang dimilikinya sebagai sebuah pengalaman berharga akan mempertajam
dan menuntun pikiran dan dirinya dalam menyelasaikan permasalahan atau mengungkap
suatu kebenaran dengan pola yang efektif dan efisien. Mengingat tugasnya
sebagai pengmbang ilmu, maka berpikir kritis sangat perlu dimiliki oleh seorang
ilmuwan.
- Inkuairi
Seorang ilmuwan senantiasa mempertanyakan apa, mengapa dan
bagaimana sesuatu itu terjadi, atau apa, mengapa dan bagaimana suatu masalah
itu muncul. Dengan pertanyaan-pertanyaan itu dia tak hanya diam dan merenung,
namun juga mencari informasi melalui berbagai sumber, dan berusaha memecahkan
masalah yang ia temukan. Sikap ini dinamakan inkuairi yang merupakan sikap
naluriah yang dibawa anak sejak lahir. Sikap inkuairi ini akan mendorong
ilmuawan gemar meneliti, sehingga ia dapat menemukan (discover) sesuatu dan
karena keterampilan motorik serta kreatifitasnya dia juga dapat menemukan
(invent) suatu karya. Apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,
maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan
peristiwa; kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki
suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan
eksprimen.
- Tekun dan teliti
Sikap tekun seorang ilmuwan menyebabkan ia tidak bosan mengadakan
penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan, tidak akan
berhenti melakukan kegiatan–kegiatan apabila belum selesai terhadap hal-hal
yang ingin diketahuinya. Ia berusaha bekerja dengan teliti. Ketekunan dan
ketelitian merupaka senjata ampuh bagi ilmuwan karena tanpa ketekunan dan
ketelitian, experiment yang membosankan ditinjau dari segi waktu tidak akan
memberikan hasil yang diinginkan. Sikap tekun dan teliti menuntut ilmuwan
agar tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, dapat berfikir secara
sistematik, sehingga tidak menghasilkan kesimpulan yang kontroversial,
khususnya berkaitan dengan pembuatan pernyataan atau publikasi ilmiahnya.
Karena pola kerja yang tidak tergesa-gesa dan cermat melihat
kekurangan-kekurangan untuk terus diperbaiki serta tetap mencari informasi atau
sumber-sumber yang lebih valid untuk melengkapi dan menyempurnakan argument,
maka hasilnya sudah pasti adalah sebuah ilmu baru yang akan memberikan manfaat
sangat besar bagi kehidupan masyarakat banyak seperti yang telah diperlihatkan
oleh Lavoisier sebagai seorang Pendiri Ilmu Kimia Modern.
- Skeptik
Istilah skeptik ini berarti tidak mudah percaya, selalu meraguka
sebelum sesuatu dapat dibuktikan. Atas dasar inilah, sikap skeptik akan
mendorong seorang ilmuwan untuk meneliti kembali pekerjaan ilmuwan sebelumnya,
misalnya dengan memperbanyak variabel atau menelusuri prosedur penelitian yang
telah dilakukan orang lain. Dengan cara ini terjadilah kesinambungan penelitian
terhadap hal tertentu dan dengan memperbanyak variabel terjadilah pengembangan
ilmu.
Sikap skeptik juga menunjukan keluasan wawasan yang dimiliki seorang
ilmuwan. Dengan wawasan lebih yang dimilikinya, seorang ilmuwan dapat melihat
sesuatu dari berbagai perspektif, sehingga dapat lebih jeli melihat kekurangan
atau kelemahan sebuah obyek (ilmu) untuk kemudian di diperbaiki dan disempurnakan.OLeh
karena itu selain sebagai pencari kebenaran (ilmu), seorang ilmuwan juga,
dengan sikap skeptisnya ini, ia juga adalah seorang pengkritik masalah
sekaligus pemberi solusi dari masalah tersebut.
- Jujur dan bertanggung jawab terhadap masyarakat
Dalam melakukan penelitian, seorang ilmuwan tidak boleh
memanipulasi data. Artinya apapun hasil yang diperoleh harus dikomunikasikan di
depan sesame ilmuwan dengan penuh kejujuran. Seorang ilmuwan akan sangat
tercela jika penelitian yang dilakukannya hanyalah sebuah jiplakan karya orang
lain yang dikemas dengan penampilan lain. Publikasi yang dilakukannya, pada
ahirnya akan diketahui khalayak sebagai suatu kebohongan besar. Kejadian
seperti ini telah sempat ditulis dalam sebuah situs (http://berbual.com/sains-teknologi-pendidikan/menyoal-kejujuran-ilmuwan/):… “Dunia Fisika
telah terlebih dahulu diguncangkan oleh kasus serupa yang lebih spektakuler
skalanya. Oktober tahun lalu, Science, sebuah majalah ilmiah terkemuka lain,
mencabut sekaligus 8 makalah dengan Hendrik Schon sebagai penulis utamanya.
Schon adalah seorang superstar sains asal Jerman dan bekerja pada sebuah
lembaga riset yang sangat disegani Lucent Technologies’ Bell Labs. Dia telah
menghasilkan lebih dari 80 makalah di jurnal-jurnal terkemuka dan mendapat
berbagai penghargaan ilmiah. Dia juga telah melakukan pekerjaan penting dalam
bidang ilmu bahan dan elektronika, khususnya dalam masalah semikonduktor
molekul, laser, dan superkonduktor temperatur tinggi. Hasil-hasil risetnya
membuat ia ditunjuk menjadi Direktur di Max Plank Institute (sebelum akhirnya
dibatalkan karena kecurangannya) dan dijadikan kandidat penerima hadiah Nobel”.
Namun demikian untuk menyampaikannya kepada masyarakat perlu ada
penyaringan agar tidak terjadi keresahan atau salah tafsir yang dapat merugikan
masyarakat. Dalam hal ini peneliti perlu juga mempelajari tingkat pemahaman dan
kultur yang ada dalam masyarakat, sehingga hasil penelitian yang dilakukannya
tidak memunculkan keresahan atau mungkin kemarahan khalayak yang akan menjadi
bomerang bagi peneliti sendiri.
- Terbuka
Seorang ilmuwan harus dapat menerima saran dan kritik dari orang
lain. Informasi tentang hasil penelitian biasanya memperoleh tanggapan dan
saran atau kritik dari sesame ilmuwan. Kritik, khususnya yang membangun harus
dapat diterima dengan lapang dada.Karena dengan demikian seorang peneliti dapat
mengintrospeksi dan memperbaiki kesalahan atau kekurangtelitian yang telah
diperbuat. Dengan demikian disamping menyadari tentang kekurangannya itu, ia
juga menghargai pendapat orang lain.
- Toleran
Seorang ilmuwan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bersedia
mengakui bahwa orang lain mungkin mempunyai pengetahuan yang lebih luas, atau mungkin
saja pendapatnya bisa salah. Dalam belajar menambah ilmu pengetahuan ia
bersedia belajar dari orang lain, membandingkan pendapatnya dengan pendapat
orang lain, serta tidak memaksakan suatu pendapat kepada orang lain. Dalam
pikiran seorang ilmuwan terdapat ruang “toleran”; sebuah ruang untuk
menempatkan kebenaran ilmiah sebagai sesuatu yang lebih bebas untuk
diinterpretasikan dalam batas-batas tertentu. Batas tegas dalam jiwa seorang
ilmuwan hanya ada antara kebenaran dengan ketakbenaran. Seorang ilmuwan
akan menyatakan dengan mantap” Pendapatku memang benar, tapi mungkin mengandung
kesalahan. Dan pendapat orang lain memang salah (kurang tepat), tapi mungkin
mengandung kebenaran